*Ini hanya bisnis, jangan sakit hati….

Perayaan tahun baru Masehi tidak ada dalam agama manapun. Silahkan cek kitab suci agama kalian–jika tidak percaya, cek sendiri, apakah ada? Tidak ada. Perayaan tahun baru Masehi simpel kreasi manusia, dengan alasan tertentu.

Lantas kenapa orang2 jadi sibuk sekali merayakannya?

Jawabannya sederhana: bisnis.

Jika 365 hari dipetakan dengan baik, maka tanggal-tanggal menuju tahun baru, adalah momentum bisnis paling menarik. Hotel misalnya, jaringan hotel dunia menawarkan acara perayaan dengan penyanyi2 top. Satu kursi untuk dinner bisa dijual jutaan rupiah, sambil dihibur penyanyi terkenal. Hotel juga menawarkan kesempatan menginap dua malam, yang juga tarifnya gila-gilaan. Tetap penuh okupansi hotel2, orang2 tidak peduli, mereka tetap mau membayarnya. Bagi hotel, apakah mereka sungguh merayakan tahun baru karena alasan hebat, tulus, momen kontemplasi utk introspeksi tahun depan, berlinang air mata kita mendengar penjelasannya? Tidak. Bagi mereka, tahun baru adalah “pesta pora”, revenue hotel meroket setiap tahun baru.

Belanja, contoh lainnya. Jaringan mall, supermarket, toko2 memberikan program besar-besaran menyambut tahun baru. Butik2, kedai2, fashion center, dsbgnya, dsbgnya, mereka menggunakan strategi berbeda dengan hotel, bukan memahalkan harga, senjata mereka terbalik: diskon. Menjelang tutup tahun adalah waktu paling pas mencuci gudang. Buat apa menyimpan gaun model lama? Buat apa memajang produk2 lama? Toh, tahun depan, selera orang2 sudah berbeda, maka marilah dicuci saja gudangnya. Mereka memasang target penjualan tinggi. Termasuk showroom, dealer mobil, waktu terbaik membeli mobil adalah akhir tahun, dek, kalian bisa dapat cash back gila2an saat akhir tahun. Produk makanan, produk konsumsi, sandang, gagdet, elektronika, semua memanfaatkan momentum akhir tahun untuk mencapai target penjualan.

Apalagi jika bicara televisi, bioskop, dan semua industri hiburan lainnya. Waktu merilis film terbaik selain summer (liburan panjang anak sekolah), adalah: akhir tahun. Hampir film2 paling top sedunia dirilis akhir tahun. Avatar misalnya, pemegang rekor paling dahsyat dirilis Desember akhir, juga yang paling gress, Star Wars, dikeluarkan akhir tahun. Televisi tidak ketinggalan berlomba2 membuat acara tahun baru, mereka ikut merayakannya, ramai sekali mencekoki penontonnya tentang betapa spesialnya tahun baru. Lagi2, apakah alasannya karena sungguh tahun baru adalah momen terbaik mengenang banyak hal? Evaluasi? Merenung? Waktu terbaik untuk memasang target2 tahun depan? No way! Televisi simpel melakukannya demi alasan rating dan pemasang iklan. Mereka tidak pernah peduli apakah acara tersebut memang sesuai dengan konsepsi perayaan tahun baru yang sakral, atau bahkan sama sekali bertolak belakang. Euuh, bagi mereka ini hanya bisnis saja, jangan sakit hati.

Saksikanlah, tangan2 bisnis, kapitalisme telah menjadikan perayaan tahun baru sebagai momen jualan terbaik mereka. Itulah kenapa mereka membombardir seluruh dunia, mengirimkan pesan seolah tahun baru adalah momen yang sangat penting. Dan penduduk bumi, berlomba2 mengaminkannya, kemudian ramai merayakannya. Penduduk bumi yang terbiasa disetir, tidak banyak bertanya, ikut2an larut dalam bisnis besar tersebut. Lantas apakah tahun baru itu spesial? Apakah tanggal 1 Januari itu memang berbeda sekali? Kalian tahu sendiri jawabannya. Ayolah, naif dek jika ada yang keukeuh ingin bilang tanggal 1 Januari lebih baik dibanding 364 hari lainnya. Dan ironisnya, kita bahkan belum bicara tentang ekses negatif perayaan tahun baru secara massif di seluruh dunia. Kita belum bicara tentang mubazir, kesia-siaan trilyunan uang seluruh dunia untuk perayaan ini. Kita belum bicara tentang dampak sosial, mercon berdentum-dentum mengganggu. Dan jangan lupa, betapa banyak anak muda yang justeru mengisi malam tahun baru dengan hal-hal merusak dirinya sendiri. Mulai dari mabuk2an, seks bebas, dan hal lain yang tidak perlu saya sebutkan.

Saya tidak sedang bicara moralitas, apalagi sok suci. Buat apa? Kalian semua sudah dewasa dan besar2 toh. Tulisan ini dibuat simply hanya sebagai penyeimbang. Syukur2 ada yang mau memikirkannya. Ketahuilah, sehebat apapun kita merayakan tahun baru, sehebat apapun kita mengisi malam tahun baru, sejatinya, dia tetap adalah tanggal, hari, sama seperti tanggal dan hari2 yang lain. Kitalah yang membuat sesuatu itu menjadi spesial, menjadi istimewa, bukan tanggalnya. Maka, sunggung malang, kaum yang asyik menspesialkan sebuah hari, hingga lupa, kita selalu bisa “bertahun baru” setiap hari secara hakikat dan substansi.

Saya tidak akan membuang energi sedikit pun merayakan tahun baru. Saya akan tidur–berusaha tidur tepatnya, di tengah dentum berisik. Saya tidak bersedia dijadikan “konsumen” tahun baru dalam sebuah jaringan bisnis raksasa–yang pemiliknya, justeru asyik tersenyum lebar melihat betapa suksesnya penjualan mereka di tahun baru kali ini. Bagi mereka, ini hanya bisnis, jangan terlalu dimasukkan dalam hati.

*Tere Liye – with Ega and truel

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

*Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja saya menangis.

Assalamualaikum..
Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.
Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kmdn, penuhlah Masjid dg para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendpt taushiyah dr Rasulullah SAW.

Beliau duduk dg lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yg tengah dilderitanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yg layak di sembah?”

Semua sahabat menjawab dg suara bersemangat, ” Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kpd kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yg layak disembah.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
“Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kpd mereka.”

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yg Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yg menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dg manusia. Maka aku ingin bertanya kpd kalian semua. Adakah aku berhutang kpd kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tsb. Karena aku tidak mau bertemu dg Allah dlm keadaan berhutang dg manusia.”

Ketika itu semua sahabat diam, dan dlm hati masing2 berkata “Mana ada Rasullullah SAW berhutang dg kita? Kamilah yg banyak berhutang kpd Rasulullah”.

Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.

Tiba2 bangun seorang lelaki yg bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sblm masuk Islam, dia berkata:

“Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa”.

Rasulullah SAW berkata: “Sampaikanlah wahai Ukasyah”.

Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
“Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tsb tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di
belakang kuda yg engkau tunggangi wahai Rasulullah”.

Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: “Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yg sama.”

Dengan suara yg agak tinggi, Ukasyah berkata: “Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah.”

Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.

Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pd Ukasyah. “Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah. bukankah Baginda sedang sakit..!?”

Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.

Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: “Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?”

Bilal menjawab dg nada sedih: “Cambuk ini akan digunakan Ukasyah utk memukul Rasulullah”

Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
“Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sdg sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya”.

Bilal menjawab: “Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua”.

Bilal membawa cambuk tsb ke Masjid lalu diberikan kpd Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.

Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: “Ykasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yg pertama beriman dg apa yg Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabtnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku”.

Rasulullah SAW: “Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dg Ukasyah”.

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:

“Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yg boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!.”

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dg Ukasyah”.

Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.

Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: “Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yg sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah”.

Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
“Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dg Ukasyah” .

Ukasyah semakin dekat dg Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.

Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. “Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dg memukul kami sesungguhnya itu sama dg menyakIiti kakek kami, wahai Paman.”

Lalu Rasulullah SAW berkata: “Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dg Paman Ukasyah”.

Begitu sampai di tangga mimbar, dg lantang Ukasyah berkata:

“Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini.”

Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta bbrp sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:

“Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah”

Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dlm keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yg sangat indah, sedang bbrp batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.

Kemudian Rasulullah SAW berkata:
“Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu.”

Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,

Ukasyah berkata:
“Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku
melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dg tubuhmu.

Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.

Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah…”

Rasulullah SAW dg senyum berkata:
“Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!”

Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.

Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kepada kekasih Allah SWT….

Allahumma sholli ‘alaa Muhammad.
Allahumma sholli ‘alayhi wassalam

SELAMAT BRRAKTIFITAS🙏🙏Semoga Allah Swt. Sll meridloi kita semua, Amin

Silahkan KLIK&SHARE jika dirasa bermanfaat…..
NB:
Yuk kita posting di medsos tentang keagungan2 Rosulullah… jangan sampai Maulid ini kalah populer dibanding hari ibu dan natal….

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

*Berpakaian

Islam mengatur dengan sangat brilian bagaimana hidup sederhana. Dari ujung ke ujung, agama ini mendidik, menasehati kita, tidak jemu-jemu, agar kita selalu punya pemahaman baiknya. Bersahaja.

Dalam berpakaian misalnya, ijinkan saya mengutip sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa meninggalkan pakaian yang mewah-mewah karena tawadhu kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia sukai untuk dipakainya.” (HR Ahmad & Tirmidzi).

Hadist ini jernih sekali, tidak perlu tafsir berat memahaminya. Penjelasannya cukup. Maka bagi orang-orang yang taat, cukup sekali mendengarnya, dia akan berkata mantap, saya dengar saya taat. Tidak ada lagi diskusi. Apalagi mendaftar pertanyaan yang sejatinya simpel mendaftar argumen ngeles saja, karena ogah melaksanakannya.

Ingatlah selalu, adik-adik sekalian, esensi agama itu ada di dalam substansinya, bukan bentuk luar kasat-mata yang seringkali dihinggapi pamer, ujub, riya pun sombong. Kitalah yang memeluk damai pemahaman tersebut, melaksanakannya dengan khidmat; meskipun kita tidak punya pakaian bermerk puluhan juta, jas, aksesoris jam, kalung, sepatu kinclong, kitalah yang memeluk tenteram pemahaman itu. Nasehati sekitar kita–karena jatuh hukumnya kita juga menasehati, agar senantiasa hidup bersahaja.

Aih, tidak tahukah kita, tidakkah kita mendengar kisah2nya, Rasulullah itu pakaiannya sederhana sekali. Lantas kita akan datang kepadanya, hendak bergabung bersamanya, sambil memakai pakaian bermerk, mahal2, mewah2? Isin.

*Tere Liye

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Seperti Anak Panah,
Dimundurkan Untuk Melesat Ke Depan..

Pernahkah Anda mengalami suatu keadaan yang membuat hidupmu seperti ditarik mundur, jauh dari
harapan ??

Pernahkah Anda melihat orang-orang yang dulunya berapi-api tiba-tiba seperti kehilangan semangat,
bahkan lenyap dari peredaran ??

Pernahkan Anda melihat atau bahkan merasakan bahwa orang-orang yang pernah anda lihat (atau bahkan
diri anda sendiri) mengalami kemunduran itu, lalu tiba-tiba melesat cepat ke depan dan meraih banyak
hasil ??

Kita seperti anak panah di tangan Allah..😌

Ada masa-masa anak panah itu melesat cepat terlepas dari
busurnya menuju sasaran yang dimaksudkan. Ada masanya anak-anak panah itu harus istirahat dalam kantong-Nya.

Namun disaat yang diperlukan, anak panah itu akan dipasang dalam busur-Nya ditarik kebelakang.. Sejauh mungkin untuk mencapai suatu sasaran.

Semakin jauh tarikannya, semakin jauh pula jarak yang akan ditempuh.

Semakin panjang rentang busur
menarik ancang-ancang, makin cepat pula anak panah itu melesat….

Jadi jika anda seperti dalam keadaan yang mundur, bersabarlah.. Mungkin Allah tengah meletakkan Anda di busur-Nya.

Menarikmu jauh-jauh ke belakang, agar di saat anda dilepaskan, anda memiliki daya dorong yang kuat untuk mencapai sasaran.

Dan jika anda melihat seorang teman seperti tengah mengalami
kemunduran, jangan buru-buru menghakimi dengan mengatakan “Apinya telah padam” atau.. “Jangan-jangan
Dia ada dosa..”

Jadilah sahabat yang baik, yang mendampingi di saat temanmu sedang “dimundurkan” karena dengan
demikian kau ikut menjaganya agar tidak sampai putus asa dan terkulai..
Anda, aku, dia, mereka, kita… adalah anak-anak panah ditangan Allah..!! Hidup untuk mencapai suatu sasaran yang sudah ditetapkan.

Tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tekun dalam kebenaran, dan senantiasa ISTIQOMAH dan
tetaplah berdoa memohon kepada Allah, niscaya Allah akan memberi lebih dari yg kita harapkan..🙏

@nasihattaqwa…

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Hidup itu Pilihan atau Takdir??
Diintisarikan dari Ceramah Ust. Felix Siauw..

Pilihan atau Takdir??
× Bisa Pilih maka itu pilihan, akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah
(contoh : mau make baju apa, makan apa hri ini)
× Tidak bisa memilih maka itu takdir, tidak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah
(contoh : mau hidung seprti apa, rambut seperti apa, itu sudah ditentukan saat lahir)..
–> Nah, anehnya manusia, suka ribet sma hal2 yg tidak akan diminta pertanggungjawabannya, dan gak ribet dgn hal2 yg akan ditanya Allah..
Sibuk mempercantik diri, tp lupa mempercantik ibadah…

∆ Dua hal yang menghalangi manusia jadi baik (memilih menjadi baik)
× karena berpikir bahwa menjadi baik atau buruk itu adalah takdir Allah yang tidak bisa dipilih
× Tidak memahami konsep hidayah sehingga hidayah dijadikan kambing hitam, “Saya ingin menjadi baik, tapi saya belum mendapatkan hidayah”..
–> padahal sesungguhnya, hidayah itu sudah ada pada setiap manusia, yaitu hidayah akal..

∆ Hidayah itu ada tiga :
× Hidayah yang turun bersamaan penciptaan manusia –> akal
× Hidayah yang diturunkan Allah kpada Rasul-Nya –> Al-Qur’an & As-sunnah
× Hidayah yang kita minta setiap harinya melalui al-fatihah dan do’a –> hidayah Taufik..
“Maka, apabila akal digunakan untuk mempelajari Al-qur’an dan Hadits, maka Allah dgn senang hati akan menurunkan hidayah Taufik..
Tapii, jika akal tidak pernah digunakan untuk mengambil pelajaran dr perumpamaan dan hikmah di dalam Al-Qur’an, maka berdo’a seprti apa pun, Allah akan malas untuk menurunkan Taufik nya…”

∆ Sesungguhnya, hanya tiga golongan manusia yg Allah tidak akan berikan petunjuk padanya..
× Golongan orang Kafir (di luar Islam)
× Golongan orang fasik (orang Islam yg tak percaya pd janji Allah)
–> orang yang sudah tau mana yg baik dan buruk, tp tetap melakukan yg buruk
× Golongan orang zalim (munafik trmasuk kezaliman)

“Kafir, fasik, zalim adalah pilihan. Apabila mereka berhenti, maka Allah akan turunkan hidayah pada mereka..
.: Jadi, apabila kita tidak atau belum mendapatkan hidayah, bisa jd karena kita masih menjadi orang Kafir, zalim, atau fasik”..

Reaksi awal saat orang mendapatkan hidayah adalah bingung, pusing, ribet, karena gak ada orang yg langsung mengerti ketika mendapatkan hidayah, kecuali Abu Bakar Ash Shidiq..
*Hidayah itu seprti Peta, semakin dekat, maka kita semakin yakin. Kalau lihat aja, maka kita gak pernah bakalan sampe, udh mikir ribet duluan…

Maka, yang paling mengetahui cara untuk menggapai Ridho-Nya dan Jannah-Nya adalah Allah. Kita tinggal mengikuti saja apa yg terdapat pada pedoman yg telah diturunkan Allah..

Take action, langsung praktek, jgn membantah, dan yakinlah bahwa janji Allah itu pasti…

*Sayangnya, manusia mikirnya banyak..
Berbuat baik mikirnya panjang, tapi berbuat jelek gak pake mikir. Seharusnya, berbuat baik gak pake mikir, berbuat jelek pikir2 dulu…

BUKAN YAKIN DULU BARU BERBUAT, TAPI BERBUAT DULU BARU YAKIN.
TAKE ACTION!!!

PS :
* Ada PSK, ditangkap oleh polisi, dia bilang..
“Kenapa Anda jd PSK??”
“Yaaa, mau gimana lg Pak? Takdir saya jd PSK”..

Itu bukan takdir namanya, itu mah doyan…
Krna tentu saja kalau kita percaya sma janji Allah, pekerjaan itu adalah sesuatu yg bisa dipilih..

* Truuuus ada pula cerita Pak Hakim dan pencuri…
Hakim : benar kamu telah mencuri??
Pencuri : Iya Pak
H : maka kamu harus dipotong tangannya
P : sebentar Pak, saya boleh kan membela diri??
H : silahkan
P : Bapak, Ibu sekalian, apakah percaya bahwa Allah maha tau?? Berarti apa yg saya kerjakan tadi pagi, mencuri, Allah sudah tau. Allah sudah tau kmrn, Allah sudah tau dua bulan yg lalu, bahkan Allah sudah tau bertahun2 yg lalu kalau saya akan mencuri pagi ini. Tapi Allah tidak menahan saya, berarti Allah sudah menyetujui kalau saya mencuri. Karena kalau Allah tidak menyetujui, kehendak Allah dgn kehendak manusia, mana yg terjadi?? Pasti kehendak Allah kan??
Manusia selalu berkata, bahwa manusia hanya berusha tp Allah yg menentukan. Kalau saya berusaha untuk mencuri tp Allah gak menentukan, jd gak tu pencurian??
Berarti ini sudah kehendak Allah Bapak-Ibu sekalian, sudah tertulis di Lauful Mahfudz..
Berarti pencurian ini bukan keinginan saya, tp sudah tertulis pada jam segini, pukul segini, bahwa saya akan mencuri, berarti saya bebas Bapak, Ibu sekalian??
H : Sebenarnya Sya ingin mengerti, tp potong tangannya algojo
(Setelah dipotong)
H : sesungguhnya saya gak mau motong tangan kamu, tp ini bukan kehendak saya ini. Ini adalah kehendak Allah. Allah sudah tahu bahwa pada hari ini tangan kamu akan dipotong tp Allah gak menghalangi, berarti Allah sudah acc…

Itu contoh kisah orang yg ngeles..
Menganggap semua sudah takdir Allah…
Seharusnya kalau dia punya akal, punya agama, klo di tempat yg sesat pun, klo dia pake akalnya buat mikir, maka gak akan pernah kejadian hal2 yg dilarang oleh Allah… – with Ega

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KISAH SAHABAT SYA’BAN RA:
MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT

Alkisah seorang sahabat bernama Sya’ban RA.
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat – sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa.
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab .
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha
( kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

“Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“ Beliau telah meninggal tadi pagi”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah ,
satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya….

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,
yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam .
Di masing – masing teriakannya dia berucapkalimat

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:
“ Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam “

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut…
perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap:

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA,
mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :

“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA.
Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)

Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut , Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar,
demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama…
Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memperlihatkan ….
ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan sorga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi:

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Sya’ban RA kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah

Masyaallah,

Sya’ban bukan menyesali perbuatannya,
tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas …konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Sering sekali kita mendengar ungkapan – ungkapan berikut :
“ Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam”
“ Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam”
“ Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”

Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan terasa longgar.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Mengapa demikian?
Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan….

Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

…from : FamilyGuide
:: Ibu Pendidikan ::

Di Jepang ada namanya “kyoiku mama” (ibu pendidikan) para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak2 mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya di bawah didikan sang ibu.

Para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata2 mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.

Dan kemajuan ekonomi Jepang adalah karena ditopang oleh kyoiku mama ini makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan itu semua hasil didikan para kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk menstransfer ilmu saja.

Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di jaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.

Ryousai: istri yg baik
Kenbo: ibu yang bijaksana

Intinya menyerukan bahwa wanita peran terhormat sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.

Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Di Jepang peran ini kembali digalakkan karena sekarang perempuan memilih melajang menjadi wanita karier sehingga presentasi pertumbuhan penduduk muda usia produktif di negara mereka menurun.

Tentu saja kasus kekerasan remaja dan bunuh diri di Jepang pada usia sekolah terus bertambah karena tidak terpenuhinya kualitas hubungan ibu dan anak yang menunjang pertumbuhan emosi anak.

Jadi wajar pemerintahan Jepang sangat memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas, karena kemajuan bangsanya kelak pun tetap ditopang oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas karakteranak anak mereka.

Sungguh luar biasa, “ibu rumah tangga adalah profesi idaman” di Jepang. Bagaimana dg kita? share yukk kepada teman-teman kamu yang wanita betapa bangga nya menjadi seorang wanita

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar


Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban??
Ceritanya, tengah malam ada yg nungguin buat bisa potong kue bareng. Bukan mengistimewakan jam 12 nya siiih, tp krna cma bisa ketemu nya maleeem. Bsk pagi2 udah hrus dinas lagiii…
Naaaaah, yg ngajakin potong kue udah ketiduran, gak enak buat bangunin, akhirnyaaaa malah ikut bobo juga…
Jam 12 malem, dibangunin sma BuPon @labitebi , buat ngasih brownies cake….
Hhhmmmmm….
Tapiii orangnya tak ade. Masa disuruh perayaan ultah sendiri, potong kue sendiri, sma makan kue sendiri tengah malem. Hahahahahahaha…

Okeeeei, kuenya masih utuh sampe sekarang…
Mariiii kita rayakan buat yg sudah banguuuuun….
Pestanya subuh2 aja yaaa…
Hihihihihihihi…

Alhamdulillah, senangnyo punya keluarga, sahabat yg sayaaaaaaaang banget sama Nia sampe sekarang, dan nanti tentunya, In Sya Allah…

Makasiiiiih cakenya BuPon, Ayah @thundermary , Mimmo @nhajiib , sma Pippo @astenbardo …😘😘😘😘 – with asten, Poni, Ega, Hendra, jannatul, and Indah

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KENAPA KITA MESTI KELUAR NEGERI?
By : Angga Dwi Putra

Saya tergelitik nulis ini gara2 banyak yang komen nyinyir ke saya bahkan ada yang sampe kirim message sambil bilang: “Ngapain keluar negeri, Indonesia udah indah. Ga perlu ke negara orang”. Menurut saya ini tipe orang yang close minded, dan biasanya insecure. Begitu ditanya udah keliling kemana aja di Indonesia, dia diam seribu bahasa. Gimana bisa bandingin kalo belum pernah ke dua2nya? Bisa juga itu tanda denial, iri tapi ga kesampean. Ga enak tau pacaran sama Pevita Pearce, mending ama cw biasa. “Emang lo udah pernah pacaran sama Pevita?”. Belon. “Lah, terus tau darimana ga enak?” kira2 gitu analoginya.

Cinta Indonesia itu wajib, tapi jangan sampe berpikiran sesempit itu. Saya udah ke 11 provinsi (cita2 pengen kesemua), emang bener Indonesia itu indah banget. Begitupun di luar negeri. Ada yang cuma ada di Indonesia tapi ga ada di negara lain dan sebaliknya. Emang mungkin kita liat aurora disini? Atau ngeliat betapa megahnya pegunungan Alpen? Kan nggak.

Sayangnya, banyak orang lain yang masih ngira kalo travelling itu cuma sekedar “Where you go”. Selfie depan landmark, nginep di hotel, trus pulang. “Been there, done that, that’s it”. Banyak yang lupa pertanyaan lain: “who do you meet, what do you learn, and how it changes you”. Yang sebenenernya itu penting banget.

Saya pernah ke negara super maju macem Swiss dan Scandinavia, tapi saya juga pernah ke negara yang acak adut kaya Kenya, Tanzania juga India (saya ga bilang mereka jelek ya), pokoknya masih mendingan kita lah. Tapi disitulah saya banyak belajar.

Pas saya lagi di Swiss atau Sweden, saya iri setengah mati. Ahhh alangkah indahnya andai Indonesia bisa kaya disana. Transportasinya super nyaman, sekolah+rumah sakit semua gratis. Jaminan sosial terjamin, cuti melahirkan buat bapak ibunya tapi gaji jalan terus, kerja maksimal sampai jam 5 sore. Sungguh manusiawi.

Saya pernah ngobrol panjang lebar waktu sekamar sama traveler dari Tunisia pas di Stockholm juga sama orang Turki pas di Rumania. Kenapa kita yang Muslim ga bisa niru mereka? Kenapa mereka yang sebagian besar atheis justru jauuuuuh lebih manusiawi, lebih berakhlak? Berat ngobrolnya sampe jam 2 pagi. Kalau begitu apa peran agama? Kenapa ga ada satupun negara islam yang bener2 maju? Wah seru deh pokoknya. Kadang ngobrol gitu justru jauh lebih seru daripada jalan2nya. Dan itulah alasan utama saya selalu nginep di hostel.

Tiap ke satu negara saya usahain ngobrol sama orang sana. Waktu di Yunani sama Portugal, kita ngobrol panjang lebar tentang ekonomi. Berhubung mereka ekonominya lagi kacau banget. Ada apa sih sebenernya, apa efeknya buat orang sana. Kepake banget pas ditanya tentang krisis Eropa pas wawancara kerja.

Di Norway yang segitu majunya tapi kok masih ada orang kaya Anders Breivik? Yang walau udah ngebunuh 70 orang tapi kagak divonis mati. Bahkan penjaranya kaya hotel berbintang. Kok bisa? Di Denmark saya nanya kenapa mereka bisa jadi negara paling enak ditinggali? Kenapa angka korupsi mereka rendah banget? Saya juga baru tau ga semua orang Swedia suka sama Zlatan.

Hidup diluar negeri juga ngebuka mata saya. Dua tahun di Prancis ngajarin saya betapa beratnya hidup di negara individualistic. 2 tahun saya ga tau siapa yang tinggal di kamar sebelah. Di Paris saya ngerasain hidup bareng semua ras manusia yang ada, dengan segala beda agama dan budaya. Pas di Jerman, saya ngerasain langsung gimana disiplinnya mereka, gimana mereka ngambek kalo bis telat dikit. Itu semua ngebuat saya ngilu, mengkhayal kapan Indonesia bisa ngejar kaya mereka.

Di sisi lain pas saya ke Kenya, ngeliat betapa bobroknya bandaranya, jalan yang ancur lebur, atau pas ke India liat kereta sebegitu penuhnya, gelandangan dimana mana, saya jadi ngerasa bersyukur jadi orang Indonesia. Orang kita ramah, kita bebas beribadah, jajanan ada dimana mana (ini yang wahid banget), makanan kita enak, kita ga ngerasain dinginnya salju, banyak hal yang bisa disyukuri. Denger langsung cerita orang Nairobi yang tinggal di ghetto, dengerin orang India yang curhat gimana beratnya hidup disana, itu semua ngebuat saya bersyukur banget saya orang Indonesia.

Andaikan ga traveling, darimana kita bisa dapet pengalaman itu? Cuma liat dari berita tv doang? Ga nendang bro. Traveling bener2 ngajarin banyak hal. Gimana kita harus tetep cool when shit happens, kita wajib jago ngatur waktu ngatur uang, kita dipaksa harus jadi orang yang easy going, juga dipaksa ngomong bahasa asing. Susah kalo kita cuma stay di Indonesia. 
So setelah ngeliat dua kutub yang begitu kontras, kita bisa banyak belajar. Kita bisa ambil nilai2 positif dari masing2.

Kita bisa dibilang bangsa yang religius, so bayangin betapa dahsyatnya Indonesia andaikan moral kita kaya orang Eropa Utara sana, kita tiru hausnya mereka akan teknologi bukan cuma sekedar pemakai tapi pencipta, belajar disiplin mereka, plus pemerintahnya ga korup. Disokong akhlak dari agama, sekalian bersyukur masih banyak negara lain yang lebih merana dari kita, dijamin kita bisa bakal maju pesat. Sayangnya kita sekarang ribut hajar sana sini ke saudara sendiri. India aja udah sibuk ngeluncurin roket kita sibuk ngurusin hal yang ga penting sama sekali.

Kadang kita terlalu terpaku sama “rumput tetangga lebih hijau”, iri sama Singapura tapi ga ada action. Tapi kadang kita sendiri ga sadar kalo kita pun bikin tetangga laen iri dengan kehijauan kita. Tanah kita subur, penduduk kita banyak, kita kaya budaya dan sumber daya. Bahkan tetangga yang punya rumput paling ijo pun kadang masih aja ada masalah. Nah kalo selama ini kita cuma maen di kebon kita aja, kok berani2nya bilang kita ga perlu nengok tetangga laen?

So, masih berargumen ga perlu keluar negeri? Masih ngira traveling itu cuma foto selfie terus pulang? Alangkah sayangnya. Saya doakan semoga temen2 disini diberi rejeki biar bisa nengok dunia luar, bisa belajar dari pengalamannya, trus bantu ngebangun Indonesia ini.

Indonesia itu indah. Begitupun dunia. 
Cheers

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

:: Jauhkan Anakmu dari Kemudahan ::

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya. Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang. Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan. (Penulis: Rhenald Khasali)

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.