Monthly Archives: September 2014

Listening to Berserah by Gamaliel Tapiheru & Audrey Tapiheru

Berserah

Kapankah pelangi datang, setelah redanya hujan..
Begitu pun gelap malam, tak kan tetap tak kan diam..
Akan pergi digantikan pagi…

Ada tangis, lalu ada tawa.. Ada manis, dibalik kecewa…
Begitulah biasanya, habis luka lalu datang suka..
Terimalah dengan hati yang rela..

Berserah pasrahkan semua, pada yang Kuasa…
Beri yang terbaik sepenuh jiwa…
Berserah bukan berarti menyerah,
Tapi tak henti percaya..
Bahwa kita memang pantas bahagia…

Bahagia pasti bersama kita, bila jalani hidup dengan cinta…
Memberi dengan rela, terima dengan suka…
Setia, Sabar, dan Percaya…

Kapankah pelangi datang? setelah redanya hujan….

Listening to Berserah by Gamaliel Tapiheru & Audrey Tapiheru

Preview it on Path

Iklan
Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

Sampah & Dosa…

Sampah berbau busuk. Makin banyak sampah, maka baunya akan kemana-mana. Jika kita mau makan dekat sampah, mencium baunya saja, bisa-bisa yang akan dimakan dimuntahkan semua.. Tapi, jika sudah terbiasa hidup dengan sampah, bau sampah, maka pada akhirnya tidak akan terasa bau lagi. Termasuk makan bersama sampah, hidung kita sudah kebal dengan baunya…

Begitu juga dengan dosa..
Sering berteman dengan orang yang senang berbuat dosa, zalim, melanggar perintah Allah, maka lama kelamaan hati kita sudah tidak merasakan lagi takut akan dosa. Hati-hati jika hati sudah mulai kebal dengan maksiat. Merasa biasa jika berbuat yang dilarang agama…

Toh pada akhirnya, sampah itu kenyataannya tetap bau dan dosa itu tetap membawa ke neraka, seberapa kebalnya hidung dan hati kita saat sudah terbiasa dengannya…

View on Path

Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

Waiting For It..

Waiting for It… – with Ega _Siska

View on Path

Categories: AtuL's FiLms, Share Path | Tinggalkan komentar

Haji Backpacker..


“Ketika kamu berharap sesuatu, kamu menganggap bahwa Tuhan telah mendukung kamu..
Tapi di saat harapan itu tidak tercapai, kamu menganggap Tuhan telah meninggalkan kamu..
Dan kamu merasa berhak, membalas dan meninggalkan-Nya?”

-Haji Backpacker-

View on Path

Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

Aku, Kau, dan KUA


Referensi buat yang mau nonton di bioskop…
– Film Aku, Kau, dan KUA buat yang seneng dengan gaya cerita nyantai dan menghibur tapi syarat makna…

View on Path

Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

Mari Memasak..

Ceritanya abang jadi koki…
Hehehehehe….
Menunya :
– Gulai Cumi + tahu
– Tempe + tahu kecap saos tiram
– Sayur bayam + wortel
– Mangga Arum Manis

Selamat Makan…
Alhamdulillah…
^_______^

ps : Lihat Mangganya, jadi inget sma Ceumil dan Bang Rengga….. – with Emilia, Andika, and Ega _Siska

View on Path

Categories: Share Path | Tag: | Tinggalkan komentar

GoLongan Darah..

Aku banget….
*Stop cari-cari alasan…
Hahahahahahahahaha……

Gambar didapat di http://www.codepolitan.com/nyankomik/karakter-programmer-berdasarkan-golongan-darah/…

View on Path

Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

Sayang Nenek..

Capita Selecta oleh M. Natsir..
For My Luvly Grand Mother..

Ibu ndak kuat baca e-book di laptop atau komputer. Alhamdulillah bisa akhirnya jadi buku..
Mudah-mudahan bermanfaat..
Cetakan dari E-Book http://www.itsar.web.id…
(Buku aslinya sudah tidak beredar lagi)..

View on Path

Categories: Share Path | Tinggalkan komentar

KISAH PENJUAL HEWAN KURBAN

KISAH PENJUAL HEWAN KURBAN
Repost dari Facebook : Yanie GisseLya

Seorang pedagang hewan qurban berkisah tentang pengalamannya: Seorang ibu datang memperhatikan dagangan saya. Dilihat dari penampilannya sepertinya tidak akan mampu membeli. Namun tetap saya coba hampiri dan menawarkan kepadanya, “Silahkan bu…”, lantas ibu itu menunjuk salah satu kambing termurah sambil bertanya,”kalau yg itu brp Pak?”.

“Yang itu 700 ribu bu,” jawab saya. “Harga pasnya berapa?”, Tanya kembali si Ibuu. “600 deh, harga segitu untung saya kecil, tapi biarlah…… . “Tapi, uang saya hanya 500 ribu, boleh pak?”, pintanya. Waduh, saya bingung, karena itu harga modalnya, akhirnya saya berembug dengan teman sampai akhirnya diputuskan diberikan saja dgn harga itu kepada ibu tersebut.

Sayapun mengantar hewan qurban tersebut sampai kerumahnya, begitu tiba dirumahnya, “Astaghfirullah……, Allahu Akbar…, terasa menggigil seluruh badan karena melihat keadaan rumah ibu itu.

Rupanya ibu itu hanya tinggal bertiga, dengan ibunya dan puteranya dirumah gubug berlantai tanah tersebut. Saya tidak melihat tempat tidur kasur, kursi ruang tamu, apalagi perabot mewah atau barang-barang elektronik,. Yang terlihat hanya dipan kayu beralaskan tikar dan bantal lusuh.

Diatas dipan, tertidur seorang nenek tua kurus. “Mak…..bangun mak, nih lihat saya bawa apa?”, kata ibu itu pada nenek yg sedang rebahan sampai akhirnya terbangun. “Mak, saya sudah belikan emak kambing buat qurban, nanti kita antar ke Masjid ya mak….”, kata ibu itu dengan penuh kegembiraan.

Si nenek sangat terkaget meski nampak bahagia, sambil mengelus-elus kambing, nenek itu berucap, “Alhamdulillah, akhirnya kesampaian juga kalau emak mau berqurban”.

“Nih Pak, uangnya, maaf ya kalau saya nawarnya kemurahan, karena saya hanya tukang cuci di kampung sini, saya sengaja mengumpulkan uang untuk beli kambing yang akan diniatkan buat qurban atas nama ibu saya….”, kata ibu itu

Kaki ini bergetar, dada terasa sesak, sambil menahan tetes air mata, saya berdoa , “Ya Allah…, Ampuni dosa hamba, hamba malu berhadapan dengan hamba-Mu yang pasti lebih mulia ini, seorang yang miskin harta namun kekayaan Imannya begitu luar biasa”.

“Pak, ini ongkos kendaraannya…”, panggil ibu itu,”sudah bu, biar ongkos kendaraanya saya yang bayar’, kata saya.

Saya cepat pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah yang sudah mempertemukan dengan hambaNya yang dengan kesabaran, ketabahan dan penuh keimanan ingin memuliakan orang tuanya…….

Untuk mulia ternyata tidak perlu harta berlimpah, jabatan tinggi apalagi kekuasaan, kita bisa belajar keikhlasan dari ibu itu untuk menggapai kemuliaan hidup. Berapa banyak diantara kita yang diberi kecukupan penghasilan, namun masih saja ada kengganan untuk berkurban, padahal bisa jadi harga handphone, jam tangan, tas, ataupun aksesoris yg menempel di tubuh kita harganya jauh lebih mahal dibandingkan seekor hewan qurban. Namun selalu kita sembunyi dibalik kata tidak mampu atau tidak dianggarkan.

Oleh : Ust. Aidil Heryan

View on Path

Categories: Oase Pengingat | Tinggalkan komentar

CERITA SEEKOR KAMBING DAN DUA REMAJA YANG CANTIK HATINYA

CERITA SEEKOR KAMBING DAN DUA REMAJA YANG CANTIK HATINYA
By : Darwis, Tere Liye

Ada dua kakak-adik perempuan, satu namanya Puteri (usia 13 tahun, SMP), satu lagi namanya Ais (usia 16 tahun, SMA). Mereka tidak beda dengan jutaan remaja lainnya, meski tdk berlebihan, juga ikutan gelombang remaja yg menyukai budaya populer saat ini, seperti lagu2, boyband, film2, dsbgnya. Kabar baiknya, dua anak ini memiliki pemahaman yg baik, berbeda, dan itu akan menjadi bagian penting dalam cerita ini.
Suatu hari, guru agama di sekolah Puteri menyuruh murid2nya utk membuat karangan tentang berkurban. Ini jadi muasal cerita, jika murid-murid lain hanya sibuk membaca sejarah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lantas menulis karangan, Puteri, entah apa pasal, memasukkan cerita hebat itu sungguh2 dalam hatinya. Tercengang. Dia bahkan bertanya pd orang tuanya, di meja makan, apakah keluarga mereka pernah berkurban. Setelah saling tatap sejenak, orang tua mereka menggeleng, tidak pernah. Ayah mereka buruh pabrik, Ibu mereka karyawan honorer, ibarat gentong air, jumlah rezeki yg masuk ke dalam gentong, dengan jumlah yg keluar, kurang lebih sama, jd mana kepikiran untuk berkorban.
Puteri memikirkan fakta itu semalaman, dia menatap kertas karangannya, bahwa keluarga mereka tidak pernah berkorban, padahal dulu, Nabi Ibrahim taat dan patuh mengorbankan anaknya. Bagaimana mungkin? Tidakkah pernah orang tua mereka terpikirkan untuk berkorban sekali saja di keluarga mereka? Puteri mengajak bicara kakaknya Ais. Dan seperti yg saya bilang sebelumnya, dua anak ini spesial, mereka memiliki pemahaman yg baik, bahkan lebih matang dibanding orang2 dewasa. Maka, mereka bersepakat, mereka akan melakukan sesuatu.
Uang jajan Puteri sehari 8.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 4.000 utk jajan dan keperluan lain. Uang jajan Ais, 10.000 perak, dikurangi untuk naik angkot, bersisa 6.000, juga utk jajan dan keperluan lain. Mereka bersepakat selama enam bulan ke depan hingga hari raya kurban, akan menyisihkan uang jajan mereka. Puteri memberikan 2.000, Ais memberikan 3.000 per hari.
Enam bulan berlalu, mereka berhasil mengumpulkan uang 1,1 juta rupiah. Menakjubkan. Sebenarnya dari uang jajan, mereka hanya berhasil menabung 600.000, mereka juga harus mengorbankan banyak kesenangan lain. Membeli buku bacaan misalnya, seingin apapun mereka memiliki novel2 baru, jatah bulanan utk membeli buku mereka sisihkan, mending pinjam, atau baca gratisan di page/blog, sama saja. Mereka juga memotong besar2an jatah pulsa dari orang tua, itu juga menambah tabungan. Juga uang hadiah ulang tahun dari tante/om/pakde/bude. Alhasil, enam bulan berlalu, dua minggu sebelum hari raya kurban, mereka punya uang 1,1 juta.
Aduh, ternyata, saat mereka mulai nanya2, harga kambing di tempat penjualan2 kambing itu minimal 1,3 juta. Puteri sedih sekali, uang mereka kurang 200rb. Menunduk di depan barisan kambing yg mengembik, dan Mamang penjualnya sibuk melayani orang lain. Tapi kakaknya, Ais, yg tidak kalah semangat, berbisik dia punya ide bagus, menarik tangan adiknya utk pulang. Mereka survei, cari di internet. Tidak semua harga kambing itu 1,3 juta. Di lembaga amil zakat terpercaya, dengan aliansi bersama peternakan besar, harga kambing lebih murah, persis hanya 1.099.000. Dan itu lebih praktis, tdk perlu dipotong di rumah. Dan tentu saja boleh2 saja nyari harga kambing yg lebih murah sepanjang memenuhi syarat kurban. Senang sekali Puteri dan Ais akhirnya membawa uang tabungan mereka ke counter tebar hewan kurban tsb. Uang lembaran ribuan itu menumpuk, lusuh, kusam, tapi tetap saja uang, bahkan aromanya begitu wangi jika kita bisa mencium ketulusan dua kakak-adik tsb.
Mereka berdua tdk pernah bercerita ke orang tua soal kurban itu. Mereka sepakat melupakannya, hanya tertawa setelah pulang, saling berpelukan bahagia. Dua bulan kemudian, saat laporan kurban itu dikirim lembaga amil zakat tersebut ke rumah, Ibunya yang menerima, membukanya–kedua anak mereka lagi main ke rumah tetangga, numpang menonton dvd film, Ibunya berlinang air mata, foto2, tempat berkurban, dan plang nama di leher kambing terpampang jelas, nama Ibunya.
Itu benar, dua kakak-adik itu sengaja menulis nama ibunya. Itu benar, dua kakak-adik itu ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Tapi di atas segalanya, dua kakak-adik itu secara kongkret menunjukkan betapa cintanya mereka terhadap agama ini. Mereka bukan memberikan sisa2 utk berkorban, mereka menyisihkannya dengan niat, selama enam bulan.
Itulah kurban pertama dr keluarga mereka. Sesuatu yg terlihat mustahil, bisa diatasi oleh dua remaja yg masih belia sekali. Besok lusa, jika ada tugas mengarang lagi dari gurunya, Puteri tdk akan pernah kesulitan, karena sejak tahun itu, Ibu dan Ayah mereka meletakkan kaleng di dapur, diberi label besar2: ‘Kaleng Kurban’ keluarga mereka.
*Kurang 12 hari lagi hari raya kurban, semoga ada yg tergerak setelah membaca cerita ini. Jika kita menghabiskan uang 100rb lebih setiap bulan utk pulsa internetan, dll, maka tidak masuk akal kita tdk punya uang utk berkorban. Belum lagi ratusan ribu buat makan di luar, nonton, jutaan rupiah buat beli gagdet, pakaian, dll. Begitu banyak rezeki, nikmat dari Tuhan, jangan sampai seumur hidup kita tdk pernah berkurban. Beli pulsa itu setelah menabung utk kurban, bukan sebaliknya berkurban datang dari sisa2 beli pulsa.
**ayo tulisan ini di share, repost, copy paste kemana2, satu saja teman kalian tergerak hatinya utk berkurban karena share tulisan dari kalian, maka itu sudah kabar bahagia.

Post pada 14 Oktober 2012

PS : Jika ada yg malah negatif sekali komen di postingan share kalian: ’emang lu sudah kurban juga? jangan cuma di status doang’, dan komen2 ngasal sejenis lainnya, jangan berkecil hati, tdk perlu ditanggapi. kita jelas tdk perlu sudah berkurban terlebih dahulu utk membagikan pesan ttg segeralah berkurban. sudah tergerak hatinya utk segera berkurban tahun depan, sudah berniat sungguh2 mau menabung, itu sudah awal yg baik. dan sy berdoa, semoga di page ini, tdk ada orang yg amat negatif hatinya, diingatkan baik2 ttg berkorban, masih saja rese’ dan menyerang yg memberikan nasehat sesama saudara muslim..

View on Path

Categories: Oase Pengingat | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.