Monthly Archives: Oktober 2014

Ini adalah sebuah Cerita..

Ini adalah sebuah cerita. Cerita curahan hati seorang anak manusia yang ga sanggup menggapai mimpinya. Mimpi terbesarnya adalah ingin membahagiakan semua orang. Ia ingin membahagiakan keluarganya, orang-orang terdekatnya. Ia ingin melihat semua orang tersenyum. Ia ingin melihat semua orang bahagia. Tidak ada kesedihan. Tidak ada air mata..

Akan tetapi, sayangnya mimpinya menyalahi takdir. Tak ada hidup yang sempurna. Tak ada cerita nyata yang semuanya tanpa derita. Selalu ada kesulitan sebelum ada kemudahan. Harus ada keterpurukan sebelum ada kebangkitan..

Ia banyak dikenal oleh orang-orang. Banyak orang menggaguminya. Banyak juga orang yang ingin dekat dengan dia. Tapiii… banyak juga orang yang marah padanya???

Yaaaaa, marah padanya…
Kesal karena telpon ga diangkat,
beTe karena sms ga di balas,
marah karena udah lama ga bertemu…

Sedih….
betapa tidak?
disaat Ia berharap mampu untuk menyenangkan semua orang. ia malah dihujat sebagian orang, bahkan tak jarang ia disalahkan oleh tmannya sendiri. Banyak orang yang tidak mengerti jalan pikirannya. Bahkan, disaat ia mengorbankan kepentingannya untuk menolong orang lain. Tidak jarang ada orang yang berpikir negatif padanya. ia ingin menghapus air mata orang-orang yang dilindungi kesedihan, tapi ia sendiri tidak mampu menghapus air matanya sendiri…

Pernah suatu hari,
demi menyenangkan orang-orang yang dekat dengannya. Meski sedang banyak yang harus dikerjakannya. Ia balas chat-chat teman-temannya di fb. ia berusaha balas semua sms yang masuk di HPnya. Ia usahakan mengangkat semua telpon yang berdering di telepon genggamnya. Namun, apa yang terjadi??

Pekerjaannya berantakan. Bosnya marah. Banyak kesalahan yang ia lakukan. Bahkan, gajinya dipotong! Pekerjaannya butuh konsentrasi. Parahnya, ia adalah seseorang yang biasa dikatakan dengan sifat “perfeksionis”. Ia ingin membantu orang lain dengan semaksimal mungkin. ia ingin melihat orang tersenyum dengan selebar mungkin. Sebuah sifat yang sebenarnya tidak ingin ia miliki. Apabila ia sudah mngerjakannya, maka hasilnya akan maksimal. Apabila ia tidak mengerjakannya maka itu belum sempurna. Apabila ia coba kerjakan smuanya dgn setengah-setngah, maka akan ada yang tidak beres.

Meski lelah, Ia harus tetap tersenyum. Meski letih, ia harus tetap bertahan. Karena ia tidak memahami arti kata meyerah. Karena ia tidak pernah diajarkan arti kata mengeLuh…

Adakah orang yang mengerti akan dia??
Adakah orang yang bisa memahaminya??
atau hanyalah ALLAH satu-satunya tempat ia mengadu??

ALLAHUAKBAR!!!

ps: “kita ga bisa maksa orang buat mengerti kita!”
tapii, apakah ga bisa orang lain juga bisa mengerti kita? ga hanya kita yang mngerti orang-orang??

Iklan
Categories: PiLihan Hidup | Tag: | Tinggalkan komentar

13 Oktober…

Hari ini, hari terakhir bulan Oktober…
Banyak kejadian di bulan Oktober tahun ini. Untuk saya, Oktober akan selalu menjadi bulan yang istimewa..
Mencoba flash back ke empat tahun yang lalu…

13 OkTober 2010,,,

hari yg penuh dengan kenangan…
bnyk haL yg terjadi pd usia ini…
– nyari LiLin buaT uLtah sendiri
– ngerjain tmen yg mau ngasih “surprise” –> [maafkan aku baLimo,,, ;)]
– bkin pesTa dadakan smbiL ngebaso
– dapeT “surprise cake” dari tmen2 Minang…
– dan acra tangis2an mpe tengah maLam (tgas pun akhirny terLewaTkan) –> ga da hub.ny sih sbnernya tangis2an ma Nia uLtah…
– yang pasTinya dapeT sLamaT dari semua sahabat dan keLuarga tersayang –> dapeT teLp khusus dr S’pore 🙂

hehehehehehehe,,,

maLu sih udah di angka kepaLa “2 ++”, tp bLum bisa ngasih bnyak buaT keLuarga, buaT masyrakaT smua, buaT tanah air….

but,
mudah2an di tahun ini Nia dapaT lebih baik lagi dgn merefLeksi apa yg udah Nia perbuaT 21 thun yg lewaT…..

Thank’s for everyone yg udah ngedo’ain Nia, ngasih sLamaT, ‘n yg udah ikuT ngasih kue ‘n kado,,,
maaf buaT tmen2 yg ga sempeT Nia trakTir saTu2,,,,,,

I Love u aLL my friends,,,,

x x x

 Terima kasih karena kau mencintaiku

Kau selalu di hatiku
Mengisi ruang dan waktuku
Tetaplah bersamaku
Sampai kita tak sanggup lagi

Bila tak sengaja diriku menyakitkanmu
Beri isyarat padaku
Agar cepat ku mohon maaf padamu

Di saat indah dan sedih
Tulus kau temani aku
Walau kadang kau mengiris perih hatiku
Terima kasih karena kau mencintaiku

          Oooh…
         terimakasih Kau mencintaiku
Walau kadang kau mengiris perih hatiku
Terima kasih karena kau mencintaiku

^.^

lilin "21"

lilin “21”

 

sersan bajuri

kostan sersan bajuri

resort

resort with fosmi

dago

cake dari Uni tersayang

fip

balimo di fip

Categories: Aku, Kamu, dan KiTa | Tag: | Tinggalkan komentar

Oki Setiana Dewi…

*post di grup SOSD, 13 Januari 2014

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Selamat Malam para SOSD semua..

Alhamdulillah, kmrn kita bersama-sama sudah menyaksikan (secara langsung atau melalui media elektronik) OSD melangsungkan acara sakralnya. Dari persiapan acara hingga resepsi tadi malam semuanya berjalan lancar tanpa kendala yang berarti.

Hari ini, entah kenapa, saya tergerak untuk mereview seluruh kegiatan saya bersama SOSD dan OSD..
Hhhmmmm,,
Baiknya saya cerita dari awal ya (maaf kalau post ini terlalu panjang)…
Saya tertarik OSD, jujur, awalnya melalui buku-bukunya, bukan dari film atau sinetronnya. Saya termasuk agak “was-was” dengan artis Indonesia yang mengaku muslimah tetapi di luar layar kelakuannya tidak jauh berbeda dengan artis-artis yang tidak memiliki ikon “muslimah”. Saya menikmati KCB, atau sinetron Oki lainnya, tapi tidak menyukai secara personal seorang Oki Setiana Dewi.

Saya pernah melihat buku pertama OSD, tapi tidak begitu tertarik membacanya. Saya pikir Dia sama seperti artis lainnya yang terkadang suka menggunakan jurus “aji mumpung”, padahal belum tentu artis tsb memiliki bakat di bidang lain. Pada akhirnya, saya “terpaksa” membeli buku Pertama OSD karena sahabat saya ngotot ingin membaca buku itu. Ngubek2 Bandung, nemu di satu toko buku dan itu pun hanya tinggal satu buah (saat itu buku OSD masih belum best seller). Karena pada dasarnya saya memang suka membaca, buku tersebut malah saya yang terlebih dahulu menyelesaikannya. Berkat buku itu, pandangan saya sedikit berubah mengenai OSD tapi tidak berubah sepenuhnya.

Beberapa bulan setelah itu, muncul berita terbitnya buku Oki yang kedua. Lagi-lagi, sahabat saya ngotot untuk mencari buku Oki yang “Sejuta Pelangi”. Jika ada waktu kosong, pasti minta saya antar ke Toko Buku padahal jadwal terbit buku itu masih 2-3 minggu lagi. Satu minggu sebelum bukunya launching di Malaysia, lagi-lagi sahabat saya minta diantar ke toko buku. Meski pada awalnya saya sangat yakin buku itu tidak akan ada (karena belum waktu terbitnya), ternyata kenyataan berkata lain. Kami mendapatkan buku itu, lebih cepat dari launchingnya! Lagi-lagi, sayalah yang pertama kali menyelesaikan buku tersebut. Masya Allah! Saya akhirnya jatuh cinta pada OSD. Bukan pada sosoknya, tapi lebih karena hatinya, pemikiran-pemikirannya, dan saya rasa, untuk saat ini di Indonesia, hanya dia berani melawan arus di antara para artis Indonesia lainnya.

Next, beberapa bulan setelah itu, dapat kabar lagi buku Oki yang ketiga akan terbit, “Cahaya di Atas Cahaya”. Kali ini sahabat saya lebih “gila” lagi. Bukan hanya semua toko buku yang ada di Bandung yang kami datangi, tapi juga penerbit Mizan di Cinambo sana (sekitar 1,5 jam dari daerah saya). Untuk buku yang ketiga ini, hasilnya nihil. Meski sudah terlambat masuk kantor dan melawan panas serta macetnya Ujung Berung, kami tak mendapati buku Oki yang Ketiga sudah masuk ke kota Bandung.

Lalu, bagaimana dengan buku Keempat, Kelima dan Melukis Pelangi “Deluxe Edition”?

Khusus buku Melukis Pelangi “Deluxe Edition”, buku itulah yang memperkenalkan kami dengan Mas Boby Satya, Manajemen OSD. Launching bukunya di Jakarta, kami (lagi-lagi) mencari di Bandung, bukunya masih belum beredar. Akhirnya kita pilih menghubungi Mas Boby dan minta tolong membelikan buku tersebut di Jakarta (stok buku tsb masih blum ada di Manajeman OSD). Alhamdulillah Mas Boby bersedia membelikan buku tersebut, meski harus berhujan-hujan ria. Sip! Buku Melukis Pelangi “Deluxe Edition” sudah di tangan. ^___^

Wait, ternyata cerita buku tersebut tidak sampai di sana saja.
Dua bulan yang lalu, Mas Boby cerita via WA. Saat membelikan buku Melukis Pelangi “Deluxe Edition” tersebut, beliau membeli dua buku, untuk kami dan untuk Mas Boby sendiri. Saat meminta tanda tangan OSD untuk buku yang kami pesan tsb, Mas Boby khusus datang ke kampus Oki sekalian ada jadwal pertemuan juga. Satu buku punya kami sudah ditanda tangan Oki, lalu buku yang kedua? Buku Mas Boby ternyata tidak pernah sampai di tangan beliau. Bukunya dibawa oleh salah seorang sahabat Oki yang harus terbang ke Malaysia hari itu juga. Oki tidak sempat mencarikan buku Melukis Pelangi “Deluxe Edition” untuk temannya, akhirnya buku Mas Boby yang diberikan.

Lalu, tahukah teman-teman?
Di buku itulah terdapat Video Menapak Jejak Rasulullah, kisah perjalanan Oki di Tanah Suci. Video itulah yang menginspirasi Mas Bobby untuk mengadakan NoBar bersama Mata Sinema Watch (Mudah-mudahan dapat jadwal yang cocok ya Mas…)

Buku Keempat dan Kelima, kami akhirnya stay tune menunggu kiriman dari Mas Boby….

Apakah kisah ini cuma sampai di situ saja??

Belum, ,

Lewat buku-buku OSD, kami juga mengenal Teh Syerli (penulis dan motivator juga), lalu Dera (sahabat yang kami bantu membelikan buku-buku OSD dari Bandung), dan Uni Yessi (salah seorang sahabat asal Payakumbuh. Rumahnya mengalami musibah kebakaran, hampir semua harta-benda ikut lenyap, termasuk buku-buku OSD. Akhirnya kami memberikan seluruh seri OSD lengkap untuk beliau). Serta tak lupa juga, kami mengenal sahabat-sahabat di Tim SOSD Pusat dan Bandung…

Jika ada waktu dan kesempatan, ada Seminar atau talk show Oki di Bandung, insya allah kami pasti hadir. Sekedar memfollow up ilmu dan mendengar motivasi-motivasi langsung dari Oki. Pernah beberapa kali acara Oki yang “cukup penting” bentrok dengan jadwal kami. Sahabat saya bahkan pernah akan membatalkan tiketnya ke luar kota gara-gara launching buku “Hijab I’m In Love” yang diadakan di Sabuga Bandung, tetapi kami bukan sekedar fans yang tergila-gila dengan idola kami. Lewat pertimbangan-pertimbangan matang, akhirnya kami tetap sesuai jadwal. Insya allah, Allah akan carikan jalan lain untuk bertemu dengan Oki.

Setelah acara di Sabuga, SOSD Bandung mulai rajin menjalin komunikasi. Kegiatan Mengajar Tiap Pekan di Rumah Singgah Tegalega menjadi agenda mingguan SOSD Bandung. Beberapa bulan Saya dan sahabat saya mengajar di sana, kami kekurangan pasukan. Pernah kami terpaksa harus ganti-gantian mengajar karena bentrok dengan jadwal kerja. Akhirnya, beberapa bulan terakhir kami menyerah, jadwal kerja benar-benar tidak bisa diajak berkompromi. SOSD pun tidak ada lagi kegiatan rutin.

Cukup lama SOSD (Bandung) diam, tidak ada kegiatan. Kamarin kami dipertemukan lagi saat acara resepsi OSD&Rio. Awalnya dari Bandung yang dapat undangan ada lima orang (saya tidak ada dalam list undangan), last minute, yang berangkat akhirnya cuma bertiga (berempat masuk saya, saya menggantikan undangan yang canceled). Berangkat dari Bandung jam 11 pagi dengan menyewa mobil APV, Saya, Ega dan Teh Latifa (Teh Shinta menunggu di Jakarta). Start dari Bandung kita mampir dulu ke Mesjid Kubah Mas di Depok, lalu silaturahim sekaligus istirahat di rumah sahabat saya di Kukusan, perbatasan Depok dengan Jakarta Selatan. Pukul 19.00 seharusnya kami sudah sampai di tempat acara, tapi karena driver kami tidak ambil jalan tol, kami terjebak macet dan bajir Jakarta. Ambil jalan alternatif, terobos banjir, Pukul 20.20 kami baru sampai di tempat resepsi. Hikmahnya, ndak apa-apa rugi bayar tol daripada kena macet dan banjir (pelajaran untuk lain kali).

gathering

Gathering SOSD 2 (saya yang ambil fotonya)

sosd

SOSD Bandung

Menyaksikan secara langsung resepsi Oki tadi malam, membawa saya berpikir panjang. Bagitu berlebih-lebihannya media memberitakan acara Oki. Untuk satara artis, resepsi Oki lebih terkesan sederhana. Ruangan tempat resepsi diadakan tidak besar, tapi dekorasi ruangan begitu mewah. Dinding ditutupi dengan kain hitam lalu diberikan ornamen seperti bintang-bintang. Pelaminan didesain begitu apik dengan menambahkan lampu-lampu yang indah.

Lalu, apa yang berbeda?

Saya bandingkan dengan saudara saya yang pernah mengadakan acara resepsi dengan adat Minang, acara Oki bahkan masih “sederhana” dibandingkan acara saudara saya (dia bukan artis). Makanan pun cukup bervariasi namun tidak berlebihan. Acara terbuka, semua awak media bebas meliput semua kegiatan. Bahkan, banyak diantara tamu yang menyempatkan berfoto bareng dengan para artis tamu undangan Oki. Tidak ada yang dibatasi, semua bebas berekspresi. Di luar pelaminan, hampir 70% undangan, menghabiskan waktu dengan berfoto-foto. Banyak artis yang “takjub” dengan konsep resepsi Oki. Nuanasa Islami begitu kental disandingkan dengan adat Minang.

Sebelum acara pemotongan kue, MC, Adi Nugroho sempat akan mewawancarai Oki beberapa saat. Tapi Oki dengan lirih menolak. “Langsung saja ke acara inti Mas”. Analisis saya, selain Oki merasa sudah letih, tentu saja karena waktu sudah cukup larut. Oki sepertinya tidak ingin acara resepsinya selesai larut malam. Tamu-tamu Oki jangan sampai nanti pulang terlalu malam.
Lalu, setelah acara pemotongan kue, MC, Rina Gunawan meminta Oki dan Rio untuk saling bersuap-suapan, tapi Oki (lagi-lagi) dengan lirih menolak. “Makan tidak boleh berdiri.” Seketika itu juga WO langsung mencarikan kursi untuk Oki dan Rio. Jadilah acara suap-suapan kue itu dilakukan Oki sambil duduk.

Saya begitu terperangah memperhatikan tingkah Oki. Dia dengan kokohnya mempertahankan prinsipnya jika menurut Dia benar. Jika Oki masih bisa memilih, maka Oki tetap akan terus mempertahankan prinsipnya. Saya jadi ingat beberapa waktu lalu, saat acara Bandung Awan Pengetahuan di ITB. Oki datang sesuai dengan jadwal yang telah disepakati dengan panitia, tetapi panitia ternyata tidak bisa tepat waktu karena harus menunggu beberapa pejabat yang juga mengisi acara tersebut. Akhirnya Oki memilih membatalkan untuk tampil, karena panitia menawarkan waktu yang pertepatan dengan sholat Zuhur. Saya melihat Oki sedikit kecewa (karena dia sudah jauh-jauh dari Jakarta untuk mengisi seminar di Bandung, tapi karena jadwal yang tidak sesuai kesepakatan, dia batal tampil lalu harus buru-buru ke Cibubur untuk shooting AAM). Oki menampilkan kekecewaannya dengan senyuman. Oki malah sibuk berfoto-foto dengan Paman Agus, mencoba meluapkan kekecewaannya dengan senyuman.

Tadi malam, saya sempat berbincang dengan beberapa sahabat Oki. Oki ternyata sudah wanti-wanti bahwa pada saat acara resepsi, seluruh lagu yang dimainkan harus full lagu islami, bahkan Dia memberikan list lagu-lagu yang boleh ditampilkan. Tapi apa dapat dinyana, masih saja ada yang membawakan lagu non Islam dan lagu barat. Mungkin itu resiko jadi artis, kita tidak dapat mengontrol segala hal karena banyak orang yang berperan dalam hidup seorang artis.
Saya jadi ingat Oki pernah bilang, “Saya sebenarnya memutuskan untuk bernyanyi setelah mempertimbangkan beberapa hal. Untuk sahabat-sahabat ketahui, saya bahkan tidak hafal lagu-lagu saya sendiri. Jika di dalam mobil atau sedang dalam perjalanan, saya lebih senang mendengarkan Murotal. Saya mendengarkan dan menghafalkan lagu saya, jika untuk kepentingan konser atau kegiatan menyanyi saja”.

Oki memang berbeda.

Kemarin, Dia dengan sukses mempertontonkan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa pernikahan dalam Islam itu indah. Tanpa pacaran. Menjalani proses ta’aruf dengan sewajarnya. Menyegerakan ijab kabul. Dan melakukan resepsi dengan “sederhana”..

Oh ya, soal tamu VIP atau bukan. Kemarin saya melihat, perbedaan VIP atau bukan, semata-mata hanya untuk menghormati rekan-rekan Oki. Banyak rekan Oki adalah orang yang diminati oleh seluruh orang (untuk berfoto maksudnya). Jadi pembatasan tempat duduk tersebut hanya agar para tamu undangan dan keluarga merasa nyaman untuk menikmati makanan. Tapi pada kenyataannya, masih banyak tamu undangan yang bukan VIP masuk ke daerah VIP hanya untuk sekedar berfoto dengan para idola yang mereka temui. Tidak ada pembatasan yang saklek. Semua membaur. Bahkan, kami tim SOSD Bandung pun menikmati makanan di daerah VIP, padahal kami hanya mendapatkan undangan dari kertas foto…

Saya tergerak menulis surat ini, bercerita kepada para SOSD yang belum mengenal Oki agar lebih bisa memahami bagaimana Oki sesungguhnya. Tidak gampang menghujat atau mengkritisi Oki disaat Oki salah. Lalu buat para SOSD yang begitu terinspirasi dengan Oki, Oki tetap manusia, dia tetap memiliki sisi kekurangan. Contohlah hal-hal yang baik saja dari seorang Oki Setiana Dewi. Berusahalah terus agar memilihara pikiran positif, jika ada hal yang tidak baik, segera ditabayunkan, buat surat untuk Oki atau manajemen Oki, atau melalui grup SOSD. Dengan cara yang santun dan berterima. Banyak orang-orang yang ada di sekeliling Oki yang terkadang juga tidak sesuai dengan yang Oki ingini.

Terakhir, buat seluruh sahabat-sahabat yang terinspirasi dengan Oki, mari kita berbuat. Lakukanlah hal yang baik dengan segera. Oki adalah contoh nyata yang dapat kita teladani sisi-sisi positifnya..
“Apakah sahabat-sahabat sudah berhijab (bagi yang perempuan)?”
“Apakah sahabat-sahabat sudah mencintai Allah dan Rasullullah?”
“Apakah sahabat sudah bisa menjaga diri dari lawan jenis?”
“Apakah sahabat sudah terbiasa mendengarkan murotal dan membawa Al-Qur’an di setiap langkah?”
“Apakah sahabat sudah terbiasa mengaji one day one Juz?”
“Apakah sahabat sudah terjun untuk ikut mengajari mengaji Al-Qur’an?”

Itu hal-hal yang sudah menjadi keseharian bagi Oki. Bagi sahabat yang sudah, mari terus perbaiki diri. Jika bagi sahabat-sahabat yang belum, jangan putus asa untuk terus mencoba.

SOSD menunggu kesiapan sahabat-sahabat semua untuk turun serta ke masyarakat. Ikut berdakwah bersama Oki meski dengan semua keterbatasan yang kita miliki.
Oki mungkin tidak terus berada di samping kita.
Oki mungkin seorang artis yang sibuk dengan segala rutinistasnya.
Tetapi, bawalah semangat Oki untuk terus berusaha berdakwah lewat jalan apa pun.
Meski Oki tidak melihat kita, tapi insya Allah, Allah yang akan menyaksikannya langsung.

Foto-foto The Wedding OSD-RIO

Foto-foto Second Gathering SOSD

oki

“Potong Kue”

Link asli : https://www.facebook.com/groups/162272460453687/permalink/785137428167184/

Categories: AtuL's Books | Tag: | Tinggalkan komentar

Resensi Novel “Rindu”

 -RINDU-

“Kita tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Itu kehidupan kita. Tidak perlu siapa pun mengakuinya untuk dibilang hebat. Kitalah yang tahu persis setiap perjalanan hidup yang kita lakukan. Karena sebenarnya yang tahu persis apakah kita bahagia atau tidak, tulus atau tidak, hanya diri kita sendiri. Kita tidak perlu menggapai seluruh catatan hebat menurut versi manusia sedunia. Kita hanya perlu merengkuh rasa damai dalam hati kita sendiri.”

“Kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. Karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu.”

*Tere Liye, Novel “RINDU”

Sesaat setelah membagi status Tere Liye tersebut, Aku bertekad dalam hati “kalau bukunya keluar, aku akan langsung beli, dan baca hingga tuntas.”. Jika dilihat dari judulnya, bukunya kuduga akan bercerita tentang cinta, seperti novel Tere Liye sebelumnya, Sunset bersama Rossie. Aku tidak dapat menebak dengan persis akan seperti apa jalan cerita novel itu, tapi aku selalu tertarik dengan semua buku Tere Liye. Banyak judul, banyak latar, tapi jika kita dapat memerhatikan dengan baik, inti buku tersebut sederhana, pemahaman hidup. Lewat konflik yang dihadirkan, dari sederhana hingga rumit, Tere Liye selalu bisa membuat pembacanya memetik pemahaman yang lebih baik setelah membaca buku-bukunya.

Oktober (lagi-lagi) dipilih oleh Tere Liye untuk rilis novelnya. Tahun ini Rindu. Tahun lalu Amelia. Aku akan sangat menantikannya. Akan tetapi sayang, saat aku menikmati Idul Adha di kampungku, Payakumbuh, aku mendapatkan berita terbaru dari Tere Liye kalau novel Rindu sudah rilis! Ouwh… Berarti aku harus bersabar untuk membaca novel itu hingga nanti kembali lagi ke Bandung. Oke, mari bersabar. Tepat tengah malam tanggal 21 Oktober aku kembali menapak tanah Pasundan. Alhamdulillah… Oleh karena beberapa kesibukan, aku tak jadi bisa menunaikan janjiku sesegera mungkin, mengunjungi toko buku diskon.

Lima hari kemudian baru aku dapat memiliki dengan sempurna novel Rindu, dari “Bang Tere”. Beliau benar, ini buku paling tebal dari seluruh buku yang ia tulis. Agak kecewa berat, karena tebalnya yang 544 halaman itu berarti harus membuatku menyita banyak waktu diantara kerja dan kuliah yang aku tekuni. Tidak ada lembar perkenalan, kata pengantar, endoser, daftar isi, atau halaman penunjang lainnya, cuma halaman judul dan identitas buku, halaman berikutnya langsung lanjut masuk ke cerita.

Hhhmmm…..

Oke, tak masalah, aku lanjut membaca halaman pertama novel.

“Cerita ini bermula di suatu pagi di penghujung tahun 1938. Tepatnya tanggal 1 Desember 1938, bertepatan dengan 9 Syawal 1357 H. Matahari baru sepenggalah naik ketika pagi itu, sebuah kapal besar merapat di Pelabuhan Makassar.”

Pukulan lagi bagiku, ini ternyata kisah tempo dulu, jadul, dan berlatar tempat di Makassar. Kemudian, aku tutup lembar novel tersebut, aku lanjutkan rutinitasku yang lain. “Maaf Bang Tere, bukumu kali ini tidak bisa membuatku mengalihkan duniaku.” Sahabatku cuma bisa menertawaiku yang sudah membeli kamus bersampul putih. Sudah tiga hari berlalu, tak jua ketemukan ketertarikan hati dan cukup waktu untuk sekedar mengalihkan pandangan menyusuri kata-kata Tere Liye. Aku mulai bertanya-tanya, kenapa cuplikan novelnya di page Tere Liye begitu memukauku?

Allah berkehendak lain, aku terkena sakit demam, batuk, dan flu, aku butuh istirahat yang cukup. Apa yang bisa kulakukan jika tidak membaca buku? Kuraih kembali novel kamus itu. Setelah selesai bab pertama, aku melanjutkan membaca bab kedua, aku mulai paham jalan cerita novel ini. Ternyata ini tentang perjalanan sebuah kapal bernama Blitar Holland ke tanah suci!

 “Tentu tidak. Insya Allah akan kusebut namanu di sana, Dale. Semoga besok lusa kau dan keluargamu bisa berangkat ke Tanah Suci.” Gurutta mengangguk, menatap wajah tukang cukurnya dari cermin.

Mungkin ini yang kubutuhkan! Aku cukup kecewa karena impian untuk mengunjungi Tanah Suci tahun depan sepertinya belum bisa terlaksana secepatnya. Novel ini bisa jadi dikirimkan Allah sebagai pelipur laraku. Oke, aku akan menghabiskan membaca novel ini secepatnya. Tanah Suci, I’m coming… Lagi-lagi, ternyata aku salah. Ini bukan cerita tentang seseorang berjuang ke tanah suci. Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan. Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Tentang kehilangan kekasih hati. Tentang cinta sejati. Tentang kemunafikan. Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Nama tokoh kita adalah Ahmad Karaeng, semua penduduk Makassar hingga Pare-pare lebih mengenalnya dengan panggilan Gurutta. Ia merupakan salah seorang ulama masyhur di zaman itu. Perawakannya tinggi, tidak kurus, tidak juga gemuk. Jalannya masih kokoh untuk seseorang yang berusia tujuh puluh lima tahun. Ke mana-mana mengenakan serban putih, kemeja polos, celana kain bersahaja, dan terompah kayu. Perjalanan memenuhi panggilan Allah tersebut memiliki lima pertanyaan yang terus terkatung-katung dalam pikiran para tokohnya.

Dalam perjalanan panjang itu, mempertemukan orang-orang yang secara tidak langsung menjadi sebuah keluarga besar yang memiliki niat satu, kerinduan melihat Masjidil Haram. Kerinduan untuk menjadi sebuah pribadi yang lebih baik. Selain Gurutta dari Makassar, juga ada Daeng Andipati bersama istri, anak-anaknya, Elsa dan Anna, lalu Bi Ijah. Kemudian, Bonda Upe dan Enlai, suaminya. Keluarga Mbah Kakung Slamet, Mbah Putri, dan anaknya dari Semarang. Rombongan dari Surabaya membawa Bapak Soerjaningrat dan Bapak Mangoenkoesoemo. Oh ya, tak boleh dilupakan adalah awak kapal Blitar Holland, Ambo Uleng, Pak Kapitein Phillips, Ruben si Boatswain, Sergeant Lucas, Chef Lars, Dokter Bram dan banyak tokoh pendukung lainnya.

Membaca cerita ini mengingatkanku pada saat membaca buku karya Buya Hamka, di bawah Lindungan Ka’bah. Cerita bagaimana dulu butuh perjuangan ekstra untuk mencukupkan rukun Islam. Semua keterbatasan materi dan penjajahan yang masih berlangsung. Membaca novel ini membawaku bertualang dari Makassar, Surabaya, Semarang, Batavia, Lampung, Bengkulu, Padang, Banda Aceh, hingga Kolombo di Sri Langka. Kapal ternyata bisa menjadi sebuah tempat yang menyenangkan. Ada mesjid, sekolah, kantin, ruang perawatan, laundry, bahkan tukang jahit pun ada di sana! Sungguh, kreatif sekali orang-orang zaman dulu berusaha mengatasi keterbatasannya.

Konflik demi konflik atau lebih tepatnya pertanyaan demi pertanyaan diceritakan mengalir lembut dari penulis sebagai tokoh ketiga di luar cerita. Satu pertanyaan hadir disusul dengan pertanyaan lainnya. Tidak berebut ingin dijawab lebih dulu, tapi menunggu waktu yang tepat dan saat yang tepat untuk diutarakan. Pertanyaan pertama cukup menggetarkan.

“Aku seorang cabo, Gurutta. Apakah Allah… Apakah Allah akan menerimaku di Tanah Suci? Apakah perempuan hina sepertiku berhak menginjak Tanah Suci? Atau, cambuk menghantam punggungku, lututku terhujam ke bumi… Apakah Allah akan menerimaku? Atau, mengabaikan perempuan pendosa sepertiku… Membiarkan semua kenangan itu terus menghujam kepalaku. Membuatku bermimpi buruk setiap malam. Membuatku malu bertemu siapa pun.”

Pertanyaan pertama sempuran keluar dan dijawab dengan baik oleh Gurutta. Gurutta juga yang kemudian juga membantu untuk menemukan jawaban pada pertanyaan kedua, ketiga dan keempat.

“Bagaimana mungkin aku pergi naik haji membawa kebencian sebesar ini? Apakah Tanah Suci akan terbuka bagi seorang anak yang membenci ayahnya sendiri? Bagaimana caranya agar aku bisa memaafkan, melupakan semua? Bagaimana caraya agar semua ingatan itu enyah pergi? Aku sudah lelah dengan semua itu, Gurutta. Aku lelah dengan kebencian ini.”

 “Kenapa harus terjadi sekarang Gurutta? Kenapa harus ketika kami sudah sedikit lagi dari Tanah Suci. Kenapa harus ada di atas lautan ini. Tidak bisakah ditunda barang satu-dua bulan? Atau, jika tidak bisa selama itu, bisakah ditunda hingga kami tiba di Tanah Suci, sempat bergandengan tangan melihat Masjidil Haram. Kenapa harus sekarang?”

 “Apakah itu cinta sejati? Apakah aku besok lusa akan berjodoh dengan gadis itu? Apakah kau masih memiliki kesempatan?”

 Jika Gurutta berhasil memberikan pemahaman yang baik pada empat tokoh kita, lalu siapakah yang bersedia untuk menjawab dan memberikan pemahaman kepada Gurutta? Gurutta adalah orang yang dianggap tahu jawaban dari semua pertanyaan. Lalu, pada siapakah dia akan bertanya?

 “Lihatlah kemari wahai gelap malam. Lihatlah seorang yang selalu pandai menjawab pertanyaan orang lain, tapi dia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan sendiri.

Lihatlah kemari wahai lautan luas. Lihatlah seorang yang selalu punya kata bijak untuk orang lain, tapi dia tidak pernah bisa bijak untuk dirinya sendiri.

Sungguh boleh jadi akulah orang paling munafik di kapal ini. Gurutta tertunduk menatap lantai lorong. Melangkah perlahan, kembali menuju kabinnya.”

Tere Liye lagi-lagi membuat saya terpukau. Novel ini bukan tentang cerita orang yang putus cinta lalu putus asa. Novel ini bukan tentang seorang anak yang sangat membenci ayahnya hingga ayahnya mati. Novel ini bukan tentang seorang perempuan yang terpaksa menjadi cabo. Novel ini bukan tentang tentang kesempurnaan hidup. Dan bukan juga tentang seorang guru yang gagah perkasa. Novel ini mengajari kita tentang penerimaan diri. Bagaimana sebuah takdir terjadi dan kita harus paham bahwa itulah skenario terbaik yang dipilihkan Allah untuk kita.

 “Ketahuilah Nak, saat kita memutuskan memaafkan seseorang, itu bukan persoalan apakah orang itu salah, dan kita benar. Apakah orang itu memang jahat atau aniaya. Bukan! Kita memutuskan memaafkan seseorang karena kita berhak atas kedamaian di dalam hati.”

 “… mau menerima atau menolaknya, dia tetap terjadi. Takdir tidak pernah bertanya apa perasaan kita, apakah kita bahagia, apakah kita tidak suka. Takdir bahkan tidak berbasa-basi, menyapa pun tidak. Tidak peduli. Nah, kabar baiknya, karena kita tidak bisa mengendalikannya, bukan berarti kita jadi makhluk tak berdaya. Kita tetap bisa mengendalikan diri sendiri bagaimana menyikapinya. Apakah bersedia menerimanya atau mendustakannya.”

Kusudahi membaca novel bersampul putih itu kurang dari 24 jam. Banyak pesan-pesan moral yang kudapatkan secara langsung maupun tidak langsung. Bagi sebagian pembaca mungkin agak membosankan membaca novel setebal itu dengan hanya mengulang-ngulang rutinitas di kapal, shalat-makan-belajar-bermain-tidur. Tapi bagi pembaca yang membutuhkan asupan pemahaman yang lebih baik tentang hidup dan penerimaan diri lewat jalan yang tak biasa, novel ini sangat bagus sekali. Pengetahuan sejarah, geografi, bahasa Belanda, bahkan semangat nasionalis kental terasa pada beberapa bagian buku ini. Persahabatan Gurutta dan Daeng Andipati dengan Kapitein Phillips yang berbeda keyakinan dan kebangsaan, tapi saling mendukung, dapat kita contoh. Daeng Andipati mengajarkan anak-anaknya untuk menghargai hari besar umat agama lain dengan cara yang baik.

Mendekati akhir dari novel ini, aku kira akan mendapatkan akhir yang anti-klimaks. Ternyata tidak. Kali ini Tere Liye memberikan akhir yang baik atau happy ending, meski pada akhirnya ada beberapa tokoh yang meninggal di tengah cerita. Meski novel ini banyak mengandung pesan moral, tapi mengikuti alur ceritanya, aku tetap saja mendapati mataku basah. Merasakan indahnya kebersamaan Mbah Kakung Slamet dan Mbah Putri, deg-degan saat Anna terinjak-injak saat kejadian pemberontakan di Surabaya, atau ketika perompak Somalia datang menghadang Blitar Holland.

Jika telah membaca serial Anak Mamak Tere Liye, maka novel ini hampir seperti itu, menggabungkan beberapa cerita dalam satu alur. Tetapi, kita cukup membeli satu buku saja untuk mendapatkan kelima ceritanya, lebih hemat kan?

Ini adalah kisah tentang masa lalu yang memilukan.

Tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi.

Tentang kehilangan kekasih hati.

Tentang cinta sejati.

Tentang kemunafikan.

Lima kisah dalam sebuah perjalanan panjang kerinduan.

Seberapa menyakitkan kah lima masa lalu yang terkuak itu?

Membaca novel ini sama seperti memberi obat pada hati. Aku serasa ditegur tapi dengan cara yang halus. Membuatku teringat dengan pertanyaan-pertanyaan hidupku sendiri. Rasanya tidak menyesal telah menunggu lama untuk novel ini.

Rindu

Ini tampilan bukunya..

Catatan :

Resensi buku ini dibuat dalam rangka mengikuti lomba resensi buku Rindu (yang baru terbit) yang diadakan oleh Republika Penerbit ini..
Alhamdulillah saya dipilih Juara Harapan (di sini pengumumannya)..
Alhamdulillah…
Awalnya saya benar-benar tidak percaya diri mengikuti lomba ini, bahkan cenderung sudah yakin tidak akan menang. Hal ini terjadi karena beberapa kali ikut lomba menulis artikel, selalu kalah dengan yang sudah menjadi penulis. Akhirnya karena memang begitu terinspirasi dengan buku ini, saya memutuskan untuk membuat resensinya. Jadi orientasinya bukan untuk lomba, tapi lebih untuk mencoba..
Mudah-mudahan dapat lebih memotivasi diri saya sendiri untuk tidak kalah sebelum bertanding. Toh sebenarnya kalah dan menang itu wajar dalam sebuah perlombaan, yang penting jangan patah semangat kan ya.. 🙂

Lomba rindu

Ini hadiahnya…

Categories: AtuL's Books | Tinggalkan komentar

Masa Depan ?? [lagi!]

Beberapa hari ini atau jika boleh dikatakan beberapa bulan ini, jujur saya agak deg-degan kalau disuruh membahas satu frase ini “masa depan”. Sudah ada satu pos yang membahas tentang masa depan (post masa depan), dan satu pos lagi masih mengendap di draft blog ini… Entah kenapa, hati ini ragu, was-was, takut jika mulai pembicaraan ke arah perencanaan. Ragu jika keinginanku tak berbarengan dengan keinginan orang tua dan keluarga, was-was jika ternyata pilihanku ternyata salah, takut jika ternyata yang aku tempuh berbeda dengan yang orang lain pilih kebanyakan.
Bagaimana jika aku “gagal” di mata kerabatku??
Apa yang bisa kuberikan pada orang tuaku?

Maklum, aku tipe darah A yang perfeksionis dan gampang stres jika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana. Lihat saja, targetku untuk sidang S2  bulan Agustus tahun ini harus aku pasrahkan pada Allah. Allah SWT. sepertinya memang mengujiku untuk sabar dan tawakal menghadapi takdir yang sudah digoreskan oleh-Nya. Allah mungkin berharap aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik setelah ujian-ujian berserah ini… Alhamdulillah aku didampingi oleh sahabat yang setia dan sabar menghadapi aku dalam masa-masa penuh tekanan ini…

Beberapa bulan ini, jarak antara tersenyum bahagia, melongo kayak orang depresi, menangis tiba-tiba, atau semangat membuncah itu benar-benar tipis sekali. Satu hari semangat kerja meninggi, dua hari setelahnya down lagi. Tiga hari setelahnya rajin jajan makanan, besoknya malah engga nafsu makan. Hari ini ibadah wajib dan sunah engga ada yang terlewat, lusa shalat subuh aja susahnya minta ampuuuuun. Entah karena belum istiqamah atau emang tekanan di pikiran yang belum plong. Hobinya sekarang tidur (saya kalo tidur m’lu berarti lagi ada masalah, hahahahahaha)…

Beberapa planning memang banyak yang di luar rencana, seperti ke Makassar, Bangkok batal padahal tiket udah dibeli. Lulus Agustus juga belum jadi…
Aaaaarrrrrggghhhhh…..
Sepertinya si Aku ini memang belum IKHLAS dan SABAR ngejalanin takdir-Nya…
Di mulut bisa berserah, tapi masih belum kaffah di hatinya…
Ya Allah, bantu hamba mengikhlaskan ini semua. Bantu hamba dengan lapang dada menjani takdir yang telah engkau putuskan. Jangan biarkan ego ini merajalela dan merasa lebih hebat dari-Mu…
“Ketika kamu berharap sesuatu, kamu menganggap bahwa Tuhan telah mendukung kamu..
Tapi di saat harapan itu tidak tercapai, kamu menganggap Tuhan telah meninggalkan kamu..
Dan kamu merasa berhak, membalas dan meninggalkan-Nya?”

Lauh Mahfuz dan Masa Depan (Bu Rosa AS)

Bismillah… Allahu Akbar….

Dalam belajar panjangku di kehidupan ini… mencari terus keindahan Rab-ku…
Tertatih-tatih dalam perjalanan… yang sering pada awalnya terhempas..
Atau kelelahan di tengah perjalanan….
Namun aku masih hidup… karena Rab-ku selalu bersamaku…

Di dalam Al Qur’an beberapa kali disebutkan tentang lauh mahfuzh… sebuah kitab yang dipegang Allah tentang pengaturan hidup manusia dan alam semesta.

Dari belajar panjangku… dan membaca beberapa artikel atau tulisan dari berbagai sumber. Saya memiliki pemikiran, apakah lauh mahfuzh itu… jika semua sudah tertulis… lalu mengapa kita mesti berusaha… bukannya Allah mengatakan di dalam Al Qur’an bahwa nasib akan diubah jika kita berusaha?

Saya mencoba memahami dan mencari tahu… sehingga saya berpikir tentang apakah lauh mahfuzh itu.

Lauh mahfuzh itu mungkin berisi rumus-rumus tentang alur hidup manusia. Misalkan ada rumus:

(a x usaha) + (b x doa) – (c x maksiat) + x

maka dalam grafiknya perjalanan dapat mengarah ke arah mana saja, dimana dari diatas:

– a adalah nilai kuantitatif/kualitatif dari usaha yang kita lakukan secara positif/ usaha untuk taat dan ridho kepada Allah
– b adalah nilai kuantitatif/kualitatif dari doa yang kita lakukan, apakah doa ikhlas, atau mendikte Allah…
– c adalah nilai kuantitatif/kualitatif dari maksiat yang masih kita lakukan
– x adalah justifikasi Allah kepada kita

Tentu saja nilai kuantitatif/kualitatif-nya hanya bisa dihitung oleh Allah. Maka sebenarnya tidak ada seorang pun yang bisa meramal masa depan. Jika manusia meramalkan masa depan, maka itu biasanya dengan asumsi bahwa usaha, doa, dan maksiat yang kita lakukan sama kadarnya seperti saat ini. Semua itu bisa berubah jika kita mengubah kadarnya. Maka jika manusia berpikir terlalu jauh tentang masa depan… itu hanya akan membuat stres saja… karena terlalu jauh ingin menentukan kehidupan… sebaiknya terus berusaha saja yang terbaik mulai dari saat ini.

Maka dari itu masa depan kita bisa jadi turun perlahan grafiknya jika kita banyak maksiat… atau masa depan kita akan naik perlahan jika kita taat kepada Allah… mungkin itulah sebabnya apa yang kita lakukan tidak langsung mendapat balasannya hari ini.

Itulah sebabnya jika manusia bertobat, dan nilai kadar maksiatnya menurun… maka grafiknya akan menjadi meningkat, karena nilai pengurangnya berkurang…. dan ketika manusia benar-benar bertobat dari dosa apapun.. maka grafiknya bisa meningkat seperti manusia lainnya yang tidak pernah berbuat… (tobat adalah berhenti berbuat hal yang tidak baik dan tidak melakukannya lagi).

Maka jika ingin mengubah nasibmu… ubahlah diri sendiri ke arah positif, terus belajar mengenai hikmah. Menghilangkan prasangka buruk, kesombongan, egois, kebencian.. karena itu semua hanya akan mengurangi kualitas masa depan kita dalam belajar. Belajar adalah tugas manusia di dunia. Belajar tentang hikmah, dan betapa besarnya Rab-nya.

Tentu saja semua tetap ada di tangan Allah. Ini hanyalah sebuah pemikiran untuk memahami dari saya. Jika ada salahnya itu karena masih sedikitnya ilmu saya, jika ada benarnya itu dari Allah. Wallahu A’lam.

sumber : http://hariiniadalahhadiah.wordpress.com/2014/10/25/lauh-mahfuzh-dan-masa-depan/

Categories: Hijrah Hidup | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.