Monthly Archives: Januari 2015

Investasi dalam menulis
oleh. Isa Alamsyah

Ide tulisan ini muncul gak sengaja waktu ngobrol santai dengan Asma Nadia usai masuk tahun 2015.
Bukan maksud ngiklan Assalamualaikum Beijing tapi murni karena memang kebetulan ide tulisan muncul pas ngomongin film ini.
Asma Nadia bercerita tentang perjalanannya selama 3 hari di Beijing tahun 2008.
Saat itu ia baru turun dari pesawat dan tidak ada yang bisa diajak bahasa Inggris. (Asma kesal karena saya sempat ngomong kalau di Beijing – harusnya banyak yang bisa bahasa Inggris – karena itu syarat sebelum Olimpiade).
Kenyataannya tidak ada satupun yang bisa bahasa Inggris.
Setelah jalan jauh menuju bus dengan menyeret koper besar – tidak ada potter di airport – ternyata Asma harus kembali ke dalam lagi karena tiket dijual di dalam airport.
Kebayang gak sih capeknya, semua karena bahasa!
Akhirnya setelah bolak-balik Asma dapat tempat duduk di bus.
Masalahnya sekarang Asma tahu harus turun dimana tapi kemana konfirmasinya.
Beruntung – sangat beruntuh orang yang duduk disebelah ternyata bisa bahasa Inggris.
Namanya Mark Wu. Ketika berkenalan sang pria berujar “It’s remind me of Ashima.”
Mendengar itu Asma jadi tertarik. 
Ada yang tahu kenapa?
Sekedar background selama menjadi jilbab traveler berkeliling dunia, setiap kali Asma memperkenalkan diri – ia selalu dijadikan olok olok. Seperti nama penyakit saja.
Tapi kini ada yang memberi tanggapan baik atas nama Asma – Ashima.
Lalu dari Mark Wu Asma mengenal legenda Ashima dan Ahei.
Singkat cerita mereka bertukaran kartu nama.
Keesokan harinya, Asma bertemu guide bernama Sunny (namanya diabadikan dalam peran sama di Assalamualaikum Beijing).
Asma bertanya banyak hal tentang Ashima pada Sunny.
Lalu tiga hari kemudian Asma pulang ke Indonesia.
Sesampainya di Indonesia Asma Nadia bertanya banyak tentang bahasa Cina pada Mark Wu.
Mencari banyak kata-kata romantis.
Meminta Mark Wu menerjemahkan. 
Asma tidak tahu mau diapakan tapi ia tahu akan berguna.
Setelah setahun email-email-an tiba tiba Mark Wu hilang entah kemana.
Tidak ada kontak sama sekali.
Tapi hasil email emailan terekam dengan baik hingga akhirnya masuk ke novel dan diabadikan di film.
sebagian besar bahasa Cina yang dipakai adalah rekomendasi dari Mark Wu.
Yang perlu teman-teman tangkap dari penjabaran ini adalah – bagaimana Asma sudah melakukan investasi untuk sebuah tulisan, bertahun sebelum benar-benar diwujudkan dalam novel.
Ketika ide muncul, ketika lagi semangat, explore habis-habisan – investasi waktu di sana- mumpung semangat.
Seandainya Asma menunda-nunda dan akhirnya Mark Wu hilang – mungkin ceritanya akan berbeda.
Sama juga ketika Asma bertemu penderita APS. Itu terjadi sekitar tahun 2005 – sekitar sepuluh tahun lalu.
Asma awalnya hanya meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan penyakit seorang rekan.
Lalu hatinya tergugah dan punya keinginan untuk mengangkat tema penyakit tersebut.
Lalu Asma melakukan riset dan membaca berbagai hal terkait penyakit tersebut.
Asma tidak tahu akan diapakan riset tersebut tapi ia tahu akan berguna nanti.
Lalu sekitar tahun 2012 baru ide muncul.
Asma menggabungkan kisah perkenalannya dengan Mark Wu dan penderita APS dan jadilah Assalamualaikum Beijing.
Tulisan di atas sekaligus menjawab kesalahpahaman beberapa orang yang bilang, Pak Isa itu Zhong Wen ya. Temannya Salsa juga ada yang mengira ayahnay Salsa adalah Zhong Wen.
Serius ada yang mengira begitu karena mengira kisah Ashima adalah kisah nyatanya Asma Nadia.
Perkenalkan saya Isa (suami Asma Nadia, red) bukan Zhong Wen tapi Cung-cung..
Semoga bermanfaat..

NP : Warga Bandung yg belum nonton, masih diputar smpai Kamis ini di Empire…

Rangga Almahendra
Dari 5 film terbesar Indonesia akhir tahun, menurut saya yang paling keren adalah Assalamualaikum Beijing…rasanya spt nonton 99 Cahaya di Langit versi Beijing..

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kami tidak peduli siapa presidennya, siapa itu ketua KPK, siapa itu, siapa ini. Kami hanya peduli: berantas korupsi bersama-sama.

Negeri ini 350 tahun dijajah bangsa asing. Dan sejak merdeka, negeri ini puluhan tahun justeru dijajah bangsa sendiri dengan berkali-kali lebih kejam. Diperas, digerogoti, dikunyah oleh para koruptor hingga jutaan anak-anak tidak sekolah, jutaan orang hidup miskin, jalan rusak, jembatan roboh, sekolah hancur, dan semua aspek perijinan dikorup. Di perempatan jalan, di kantor-kantor, menyuap, menyogok, korup jadi pemandangan lazim.

Demi Allah; kalian tidak akan menang wahai koruptor. Apapun cara kalian melawan balik, kalian tidak akan menang. Silakan tertawa sekarang, tapi besok lusa, Allah akan membalasnya dengan sangat adil.

*Tere Liye

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Pernahkah mendengar atau membaca quote tersebut??
Banyak yg berfokus pda pakunya, agar berhati2 dalam menjaga lisan dan ucapan supaya tidak melukai orang lain…

Duhai sahabat, ada hal lain yg juga bisa kita ambil manfaat dr quote tsb..
Coba fokuskan pada kayunya. Kayu itu ibarat hati kita. Kita tentu bisa mengontrol kata2 yg keluar dr mulut kita tp kita tdak bisa mengontrol kata2 orang lain yg bisa jd akan melukai kita.. Jadilah kayu yang kuat, kayu yg tidak gampang dilukai oleh paku manapun. Meskipun pakunya tetap ada, tp tak mampu melukai kayu yg berkualitas bagus…

Jagalah hatimu, jadikan hati yg berkualitas bagus, tak peduli seperti apa pun kata2 jelek yg menghampirimu, mereka tak akan mampu menyakitimu…

#colekdirisendiri

Semangat semua…. ^______^

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ayo, cuma 50 ribu, kamu sudah melakukan banyak hal… ^_______^

Gotong Royong Memenangkan Gagasan
Kisah Dibalik Upaya Memfilmkan ‘Ketika Mas Gagah Pergi’

“Ketika Mas Gagah Pergi sangat menginspirasi saya sebagai remaja saat itu dan membuat saya jadi pribadi yang lebih peduli pada sekitar serta lebih mencintai Islam. Kisah ini abadi dan mampu mengubah banyak pembacanya menjadi lebih baik. ” (Asma Nadia)

Pernyataan penulis bestseller Asma Nadia tak jauh berbeda dari Habiburahman el Shirazy. Bahkan penulis yang populer dipanggil Kang Abik ini mengusulkan agar Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memasukkan buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ ke perpustakaan sekolah-sekolah dan universitas “untuk membangun karakter pemuda Indonesia.”

Kang Abik dikenal sebagai penulis novel best seller ‘Ayat-ayat Cinta’ dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang ketika difilmkan sukses meraih lebih dari tiga juta penonton serta mengawali munculnya genre drama-religi baik dalam bentuk film maupun sinetron televisi.

Saran kang Abik ini diperkuat oleh hasil riset yang dilakukan ahli sosiologi asal Jepang, Yo Nonaka Ph.D. Nonaka, yang juga menerjemahkan kisah ini ke bahasa Jepang, menyimpulkan, “buku ini turut berperan dalam membentuk karakter generasi muda muslim tahun 1990-an- 2000-an hingga sekarang.”

Tidak banyak kisah seperti ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ yang punya pengaruh demikian kuat dan masih relevan sejak diterbitkan pertamakali tahun 1993 dalam bentuk cerpen di Majalah Annida. Sampai kini, buku KMGP sudah memasuki cetak ulang 27 kali dan permintaan masih terus mengalir, baik melalui berbagai toko buku maupun penjualan langsung.

Tak kurang dari tiga rumah produksi kemudian mengincar untuk memfilmkan kisah ini. Tapi upaya-upaya tersebut kandas, diantaranya karena ruh religi yang mendasari novel ini justru hendak dihilangkan dengan alasan komersial.

Alih-alih kecewa, keluarga, kerabat dan kawan-kawan penulis kisah ini, Helvy Tiana Rosa, lalu membentuk komunitas “Sahabat Mas Gagah” dan menggulirkan upaya gotong royong menghimpun dukungan dalam bentuk donasi (crowd-funding) guna mewujudkan KMGP menjadi film, sesuai ruh aslinya.

Gayung bersambut. Para remaja yang membaca buku ini saat sekarang maupun sejak 21 tahun lalu, menyambut baik upaya gotong royong ini. Umumnya mereka kini sudah menjadi bagian dari keluarga menengah Muslim yang jumlahnya terus bertambah dari tahun ke tahun seiring perkembangan ekonomi Indonesia.

“Buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ menjadi jalan hidayah ketika saya masih di pengungsian, untuk berhijab, belajar giat, tidak pacaran dan menulis diary,” tulis Raidah Athirah, asal Maluku, “Kini di pucuk Aurora Norwegia, memori saya kembali. Semoga KMGP menjadi the inspiring movie.” Athirah menulis ini di status Facebook-nya sambil memajang foto bersama suami bule-nya.

Selama 21 tahun usia kisah ini, Helvy memperkirakan KMGP sudah dibaca jutaan orang, dan banyak sekali yang menginginkan kisah ini bisa menjadi film sesuai ruh aslinya.

Terkait crowd funding, rekening untuk donasi sudah dibuka saat ini, dan akan terus dibuka hingga film ini  diproduksi. Siapapun bebas menyumbang berapapun untuk mewujudkan film ini bersama-sama.

Selain itu, berkat dukungan gerakan sosial ‘TwitGreen’, setiap penyumbang Rp. 50 ribu otomatis akan memperoleh satu pohon yang ditanam atas namanya. Setelah lima tahun, 70% hasil dari pohon ini akan diberikan pada petani penanamnya dan 5% jatah yang kembali pada penyumbang, akan kita gunakan sebagai donasi kembali untuk melakukan kegiatan bermanfaat lainnya. Donasi Rp. 5 milyar akan setara dengan 100 ribu pohon.

Sebagian keuntungan film ini kelak juga akan disumbangkan pada gerakan literasi bagi anak negeri melalui Forum Lingkar Pena serta sebagian lagi untuk wanita dan anak-anak Palestina melalui Adara Relief International.

Jadi, cukup dengan Rp.50 ribu, penyumbang akan mampu mewujudkan KMGP menjadi film, menanam pohon, menyumbangkan oksigen bagi bumi, membantu petani, menggiatkan aksi literasi di negeri ini, membantu wanita & anak Palestina dan, dalam lima tahun, akan terkumpul dana yang cukup untuk melakukan kegiatan bermanfaat lainnya.

Contact Person:
Risty: 08121056956/ Fahri 085691746094

Nomor Rekening untuk Crowd Funding
1. BSM Cabang Dewi Sartika 7033101858 atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena
2. Bank Mandiri Cabang Margo City Depok 1570087778883 atas nama Lembaga Forum Lingkar Pena
3. BNI Syariah cab Margonda 0259296140 atas nama Yayasan Lingkar Pena
Konfirmasi donasi via sms ke 0821 1408 2828
Format konfirmasi: Nama Pendonasi_JumlahDonasi_RekeningDonasi yang dituju Contoh: Ramadhan F_Rp 1.000.000,-_BSM
Pelaporan donasi akan dilakukan di web resmi http://www.masgagah.com

Jangan lupa untuk bergabung di fan page Sahabat Mas Gagah di FB dan twitter @kmgpkita serta @sahabatmasgagah.

Terimakasih.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

💌 Alhamdulillah, dah murojaah satu juz… 💌

Pernahkah anda mnulis status sperti itu? 😊

Jangan terlalu vulgar mengekspos kegiatan pribadi di status, apalagi yg begitu sensitif:
“sebentar lagi mau pergi kajian hadits”
“hafalan hadits umdatul ahkam yang ke 120 kok lupa lagi ya”
“5 menit lagi mau berjama’ah isya’ di masjid”
“suara ane tadi pas jadi imam shalat kedengaran ga ya ama makmum akhwat di belakang.”
“sedang berada di kajian ustadz fulan. Persis depan beliau.”
“Khutbah jum’at di Masjid Nabawi kali ini sngat menyentuh”
“Aduh, tdi pas dimajlisnya syekh fulan gak sempat nyatat, padahal faidahnya banyak”
“Otw mekkah…. ”
“Bismillah.. Aku datang memenuhi panggilanmu ya Allah.. Moga slamat sampe Makkah”
“Ini dah masuk thawaf k brapa ya…? Lupa ane.”
“Lantai tiga masjidil haram sepi bngett.. Sambil narsis depan ka’bah”
“Lantai 20 menara zam zam. Masyaallah… Sungguh agung ciptaan-Mu ya Allah…”
“Lagi muraja’ah jangan diganggu”
“Botak lgi.. Botak lagi… Padahal umrohnya bru minggu kmaren… Alhamdullah..”
“Alhamdulillah kajian Sohih Bukhori dah nyampe hadits ke 5700 san”
“Ada yang mau bantuin ana murajaah gak..?
“Lagi nunggu adzan Maghrib. Madinah 27/10/2012”
“Alhamdulillah umrohnya lancar”

Harga diri tidak akan meningkat dengan laporan-laporan seperti itu kepada penduduk dunia maya. Berikan saja mereka faidah yang lebih bermanfaat.

Kelak, seperti disebutkan hadits, tiga jenis punggawa islam akan diseret ke neraka: pahlawan ilmu, pahlawan alqur’an dan pahlawan di medan perang. Kenapa? Ketiganya larut/menikmati riya’, sum’ah dan sejenisnya. Bisa jadi, dengan status di atas, kitalah pahlawan tersebut yang kelak terseret dalam neraka dengan kobaran dahsyat apinya.

Ini tidak memvonis, hanya mengajak lebih berhati-hati. Si empunya status ini pun (sedang) menasehati dirinya.
Baarakallahu fiikum..

(( قال الخُريبي رحمه الله: “كانوا يستحبّون أن يكون للرجل خبيئة من عمل صالح لا تعلم به زوجته ولا غيرها”. [تهذيب السير 2/ 827]))
___________________________

Karena Ikhlas itu seperti Surat Al-Ikhlas :
قل هو اللّه أحد • اللّه الصمد • لم يلد و لم يولد • و لم يكن له كفوا أحد •
Yang tidak ada kata ikhlas di dalamnya ..
Selama ikhlas masi terucap, itu berarti belum ikhlas..
Karena hanya orang yang ikhlas lah yang berbuat tanpa pernah menyebut keikhlasannya…

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dapat copas dr odoj…
Just share, untuk kita renungkan

Suatu hari di sebuah desa, seorang yang kaya raya mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp. 50.000,- per ekor. Padahal monyet disana sama sekali tak ada harganya karena jumlahnya yang banyak dan kerap dianggap sebagai hama pemakan tanaman buah-buahan.

Para penduduk desa yang menyadari bahwa banyak monyet disekitar desa pun kemudian mulai masuk hutan dan menangkapinya satu persatu.

Kemudian si orang kaya membeli ribuan ekor monyet dengan harga Rp 50.000,- . Karena penangkapan secara besar-besaran akhirnya monyet-monyet semakin sulit dicari, penduduk desa pun menghentikan usahanya untuk menangkapi monyet-monyet tersebut..

Maka si orang kaya pun sekali lagi kembali untuk mengumumkan akan membeli monyet dengan harga Rp 100.000 per ekor. Tentu saja hal ini memberi semangat dan “angin segar” bagi penduduk desa untuk kemudian mulai untuk menangkapi monyet lagi. Tak berapa lama, jumlah monyet pun semakin sedikit dari hari ke hari dan semakin sulit dicari, kemudian penduduk pun kembali ke aktifitas seperti biasanya, yaitu bertani.

Karena monyet kini telah langka, harga monyet pun meroket naik hingga Rp 150.000,- / ekornya. Tapi tetap saja monyet sudah sangat sulit dicari.

Sekali lagi si orang kaya mengumumkan kepada penduduk desa bahwa ia akan membeli monyet dengan harga Rp 500.000,- per ekor!

Namun, karena si orang kaya harus pergi ke kota karena urusan bisnis, asisten pribadinya akan menggantikan sementara atas namanya.

Dengan tiada kehadiran si orang kaya, si asisten pun berkata pada penduduk desa: “Lihatlah monyet-monyet yang ada di kurungan besar yang dikumpulkan oleh si orang kaya itu. Saya akan menjual monyet-monyet itu kepada kalian dengan harga Rp 350.000,- / ekor dan saat si orang kaya kembali, kalian bisa menjualnya kembali ke si orang kaya dengan harga Rp 500.000,- . Bagaimana…?”.

Akhirnya, penduduk desa pun mengumpulkan uang simpanan mereka dan membeli semua monyet yang ada di kurungan.

Namun…
Kemudian…
Mereka tak pernah lagi melihat si orang kaya maupun si asisten di desa itu! 

Selamat datang di Wall Street..!

Inilah yang dikatakan orang “Monkey Bussiness”!

Selamat pagi … jangan terjebak oleh “Monkey Business”… 
Seperti pohon Anthorium
Seperti ikan Lohan
Seperti semua barang yang kita beli tetapi bukan karena kita membutuhkan nya.. 

Hati hati Monkey Business yang sekarang lagi marak adalah “DEMAM BATU AKIK”

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

**I dont care apapun afiliasi politik kalian, mau kalian fans pemerintah, mau fans KMP; saya hanya peduli dengan masa depan travelling saya. Honestly, saya butuh maskapai seperti Air Asia agar bisa melihat dunia. Harga murah, safety prioritas pertama.

Saya baru saja membuka daftar maskapai di dunia yang di ban oleh Uni Eropa, alias dilarang terbang masuk kawasan mereka. Daftarnya seru (silahkan google untuk melihatnya):

1. Afganistan, Kongo, Liberia, Mozambiq, Djibouti, Eritria, seluruh maskapainya di ban. Tanpa ampun, ban.
2. Indonesia? Semua diban, kecuali: Garuda, Airfast Indonesia, Republic Express Airlines, dan Air Asia Indonesia.

Saya juga baru membuka website The World’s Airline Awards. Nangkring di daftar pemuncak Low Cost Airlines terbaik sedunia, selama lima tahun 2010, 2011, 2012, 2013, 2014: Air Asia.

Nah, sekarang saya tiba di pertanyaan paling naif. Bagaimana bisa, maskapai yang bisa terbang direct ke Eropa, penerima penghargaan terbaik 5 tahun berturut-turut, bisa terbang “ilegal” dari Surabaya? Ada apa sebenarnya? Apakah Air Asia ini memang maskapai brengsek? Kriminal? Atau birokrasi dan regulasi kita yang penuh jebakan betmen? Jangan-jangan, Air Asia itu adalah korban dari ketidakbecusan kita menegakkan peraturan, untuk kemudian kita banting dia jadi penjahatnya, dikorbankan.

Saya tidak tahu jawabannya. Karena biasanya, kalau sudah urusan begini, yang kena libas paling hanya manajer kelas kroco. Atasannya yang seharusnya bertanggung-jawab mengawasi anak-buahnya sih selamat, bisa senyum lebar di media massa.

*Tere Liye

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mari, Mari kita para generasi muda yang mengubah bangsa ini. Jadilah bangsa yang bermoral. Hentikan korupsi dari berbagai bentuk. Jangan mau terima tips dlam bentuk apa pun. Mencontek? Sama saja kita bangsa yg tidak punya harga diri… Ya Allah, Bismillah….

*Substance over form
By : Tere Liye

Ada seorang anak muda, naik motor, lantas kemudian motor ini kecelakaan. Pihak asuransi melakukan penyelidikan, apakah si anak muda ini punya SIM atau tidak? Melanggar peraturan atau tidak? Setelah dilakukan penyelidikan, kesimpulannya, si anak muda ini punya SIM, kendaraanya oke, tidak melanggar peraturan. Secara “form”, secara “bentuk”, maka genap sudah, anak muda ini oke. Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau si anak muda ini dapat SIM-nya lewat cara nembak? Bukankah secara substansi, jelas sekali dia telah melakukan kesalahan yang sangat serius. Mengemudi dengan SIM yang diperoleh tidak sah? Rentetannya panjang sekali. Nah, di negeri kita ini, terkait asuransi, kalau semua keadilan di lihat dari sisi substansinya, maka jangan-jangan, hanya 10% saja klaim asuransi yang bisa dibayarkan. Karena semua peraturan toh sudah diterabas semua.

Contoh berikutnya, ada seorang pejabat, mengeluarkan surat ijin untuk membangun rumah (IMB). Secara bentuk, dia pejabat yang memang tepat posisinya, hak dan kewajibannya memang mengeluarkan IMB. Sah semua. Tapi secara subtansi, apakah IMB yang dia keluarkan jadi benar, ketika hampir sebagian besar harus ada tips, amplop, dsbgnya? Nah, lebih sial lagi, apakah secara substansi jadi benar, ketika pejabat ini bahkan waktu SMA, kuliah, semua nilai2 yang dia peroleh hasil nyontek. Masuk jadi PNS lewat nyuap, dan sekarang berkuasa. Bagaimana surat2 ijin ini jadi sah, ketika yang mengeluarkan adalah orang yang tidak sah berada di posisi tersebut.

Bicara moralitas di negeri ini seperti loophole. Seperti ular yang menelan ekornya sendiri. Penuh dengan paradoks dan ironi. Saya misalnya (ini misal), waktu mau bikin surat pengantar menikah, diminta uang 50 ribu. Ngamuk, marah, apa hasilnya? Nggak dikasih itu surat pengantar. Mau ngadu ke mana-mana, sudah terlambat. Bisa batal semua rencana pernikahan dua minggu lagi? Terjepit sudah situasinya. Lantas kemudian ketika saya mengalah kasih 50 ribu, jadi menikah, saya tahu sekali, pernikahan ini harus berdiri di atas sogokan 50 ribu ke kelurahan. Bagaimana dengan keturunan saya kelak? Sesuatu yang suci dimulai dari nista menyogok. Apakah saya ini sudah jadi pendosa? Pusing, kan?

Hari ini, mau kalian mengakuinya atau tidak, kita mungkin tidak punya sisi yang benar-benar jujur lagi. Mulai dari bikin KTP, hingga ijin2 lain yag lebih rumit, semua sudah dikontaminasi. Ketika orang2 terdesak, tidak punya pilihan. Ketika kita sudah malas untuk memperbaiki banyak hal, yang penting urusan saya beres. Ketika orang2 yang berusaha mati2an lurus sekalipun, harus tumbang oleh situasi seperti ini.

Entahlah besok lusa.

Kita benar-benar membutuhkan generasi penerus yang sejak awal dididik dengan baik. Mulai membangun sistem yang benar2 mencegah terjadinya ketidakjujuran tersebut. Hanya dengan cara itulah kita bisa menatap masa depan yang lebih baik. Sehingga, besok lusa, kita bisa dengan tenang melihat semuanya. Baik secara “bentuk”, maupun secara “substansi”, semua urusan memang berjalan sama baiknya. Sistem telah mencegah kecurangan, pun orang-orangnya juga telah siap.

Saya terus percaya masa-masa itu akan datang.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Cerita yg panjang tapi layak utk kita renungkan:

KISAH DIBALIK RASYAD FOUNDATION

ANAK kecil ini hebat, namanya Rasyad asal Kuwait, usia 7 tahun, putera tunggal milyuner Kuwait. Saat itu ia terbaring di rumah sakit, 23 hari opname tanpa di-temani Papa Mamanya yg kebetulan sibuk dgn pekerjaannya.

Hari ke-23, Papa Mamanya datang men-jenguk & meminta maaf krn tak sempat mendampinginya. Papa mamanya menghiburnya sambil berkata: “Papa mama sibuk utk mempersiapkan masa depanmu sayang.”
Papa mamanya menunjukkan foto-foto proyek & rumah yg tengah di-bangunnya utk dirinya kelak, disamping rumah yg tengah di tempatinya skrg.

Anak ini tersenyum & bertanya: “Siapa yg bisa menjamin hari esok saya msh hidup Papaku dan Mamaku?
Siapa yg menjamin semua yg Papa Mama miliki saat ini adalah untukku?
Dan apa manfaat semua yg Papa Mama miliki tapi tak ditempati?”

Anak yg baru sekolah di kelas Madrasah lbtida’iyah ini pun akhirnya meng-hembuskan nafasnya yg terakhir dgn senyuman yg betul-betul “memukul” hati org tuanya. Apa yg terjadi pd org tuanya selepas wafatnya ananda tercintanya merupakan kisah yg tak kalah meng-harukan.

Setelah anak kecil itu dikuburkan, rumah tangga menjadi senyap, sesekali ter-dengar isak tangis, tangis kesedihan bercampur penyesalan. Kesedihan mendalam memang seringkali ditandai dgn diam, walau tak jarang juga ditandai dgn teriakan umpatan ke-sedihan atau jeritan duka.

Hari-hari berlalu dgn evaluasi kehidupan pasangan ini. Sayangnya, evaluasi yang dilakukan bukan didasarkan pada kedewasaan pikir dan ke-matangan emosi.
Si suami menyalahkan si istri yang ikut-ikutan berkarir sehingga melupakan tugas utama seorang ibu yg menjadi “taman surga” bagi anaknya.

Si istri menyalahkan suami yg setiap hari bicaranya hanya soal duit, duit dan duit. Pertengkaranpun memuncak, si suami menjatuhkan talak satu untuknya.
Si istri menjerit dan membanting semua yg ada di sekitarnya, termasuk foto keluarga yg ada di sampingnya.

Foto itu adalah foto dirinya, suaminya dan anaknya yg sedang tersenyum di suatu taman yg pernah dikunjunginya.
Foto itu baru saja dipasang satu bulan sebelum Rasyad sang anak masuk rumah sakit. Foto itu dilemparkan, kacanya pecah berserakan, sebagian mengenai wajah sang suami. Tak sengaja, di balik foto itu ada tulisan anaknya, berbunyi: “Mama Papa, semoga kita bertiga senantiasa menyatu sampai di akhirat kelak.”

Suami istri ini akhirnya terdiam, lama saling memandang, akhirnya terlarut dalam tangisan jiwa yang mendalam.
Merekapun saling mendekat, kemudian saling merangkul. Suaminya berbisik: “Kita tidak boleh berpisah. Kita harus bersatu selalu, dengan anak kita, sampai ajal menjemput kelak.”

Setelah mereka rujuk, ada perubahan mendasar dalam kehidupan mereka. Perubahan yg secara tiba-tiba karena suatu peristiwa luar biasa yg menyentuh diri sehingga menjadi landasan pacu titik balik kehidupan dalam psikologi disebut dengan epifani.

Konsep kehidupannya yang awalnya adalah kerja, kerja dan kerja berubah menjadi ibadah, ibadah dan kerja.

Sejak saat itu definisi hidupnya berubah dari “having mood” menjadi “being mood”.
Having mood adalah perasaan bangga karena memiliki walau tidak bisa menikmati dan memanfaatkan,sementara being mood adalah merasa bangga dan bersyukur dgn apa yg dijalani walau tak banyak yg dia miliki.

Orang yg punya 10 mobil tapi yg digunakan hanya satu saja & merasa nyaman dgn kepemilikan itu padahal tidak digunakannya maka ia terjangkit penyakit “having mood.”

Sementara yg tidak punya mobil, tapi menikmati hari-harinya dgn naik taksi atau mikrolet maka ia tipe orang bahagia dengan “being mood.”
Kita masuk yang mana?

Orang tua Rasyad ini kemudian mewakafkan beberapa rumah dan cottage yg dimilikinya untuk menjadi madrasah dan pusat kegiatan agama yang diberi nama: Rasyad Foundation.

Semoga kita dapat menghargai anak2 kita sebagai anugerah Allah Swt sehingga …… menjadi sebaik2 Anugerah….Aamiin

~copas dr odoj..

Sooo, Having Mood or Being Mood???

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Bang Tere bener2 tau isi hati saya….
Darwis Tere Liye

*Tiket 0 Rupiah Air Asia

Apakah kalian pernah naik pesawat dengan tiket 0 rupiah? Saya pernah. Tahun 2010, bareng istri saya pergi ke Singapore dengan Air Asia. Berapa yang kami bayar untuk tiket berdua? 0 rupiah. Berangkat pagi dari Jakarta, tiba di Singapore, makan siang di pedestrian Orchard, sorenya pulang ke Jakarta. Dan itu bukan sesuatu yang “amazing”, karena puluhan ribu traveller lainnya, memiliki kesempatan sama, cerita mereka lebih keren. Mereka juga mendapatkan tiket promosi dari maskapai Air Asia. Jauh sebelum itu, saya juga pernah bersama geng ke Lombok, naik Air Asia ke Denpasar, lagi-lagi menggunakan tiket super murah. Tidak spesial.

Minggu2 ini, maskapai Air Asia sedang berkabung atas jatuhnya pesawat mereka. Banyak orang marah. Ngamuk-ngamuk. Sambil bawa wartawan, marahnya bila perlu sekalian “live”. Tidak cukup marah, bahkan pemerintah melalui pejabat terasnya bilang akan menghapus “penerbangan murah”, agar tidak lagi terjadi pesawat jatuh. Puh, benaran nih Pak, mau dihapus “penerbangan murah”?

Tahun 2014, Air Asia membawa sekitar 9 juta penumpang di Indonesia. Baiklah, kalau memang mau dihapus, kita usir saja mereka dari Indonesia. Tutup. Bumi hanguskan. Bila perlu kita ganyang habis2an biar puas. Untuk kemudian so what? Mereka terbang ilegal dari Surabaya, pantas dong kita habisi. Tapi bagaimana kalau kita buka urusan ini seterang-terangnya, maka saya khawatir, yang perlu dihabisi lebih dahulu adalah pejabat2 teras di pemerintahan kita. Sudah terlalu lama omong kosong ini, Tuan, Nyonya, mana ada sih peraturan yang kalian ciptakan yang sungguh2 kalian tegakkan? Coba tengak bandara Soekarno Hatta, orang2 bisa merokok sembarangan di lorong2 dengan petugas berdiri di depannya. Kalau soal merokok saja, hal yang paling upil, kalian tidak bisa bereskan, apalagi soal ijin hantu. So what? Marah-marah mungkin sekarang jadi trend pejabat.

Hingga kita lupa, Air Asia itu jangan-jangan justeru korban dari tidak becusnya kita menegakkan peraturan. Mereka beroperasi ilegal berbulan2, tidak ada yang negur. Loh, kok dibiarkan? Jangan-jangan air Asia itu korban dari persekongkolan kita! Untuk kemudian kita banting dia jadi tersangka, kriminal terbesar. Catat saja, negeri kita ini pernah dan masih di ban oleh Eropa (termasuk Garuda dulu), mereka tidak sudi ada penerbangan dari maskapai Indonesia ke negara mereka, hasil audit mereka mencemaskan, jadi daripada nanti masalah, mereka ketiban getahnya, ban saja. Itu seharusnya jadi PR besar sejak dulu, bukan sebaliknya, setiap ada kejadian, baru rusuh.

Saya tidak tahu apa yang telah dilakukan pejabat kementerian perhubungan untuk saya, tapi saya tahu persis apa yang telah dilakukan Air Asia untuk saya. Air Asia itu membuat tiket pesawat terjangkau bagi banyak orang. Rute Bandung-Yogya, jika hanya dikuasai satu maskapai, maka kalian tahu tiketnya berapa? Ada di angka 900.000. Bandingkan Jakarta-Yogya yang lebih jauh, tiketnya bisa dapat 300-400rb. Lihat saja, rute2 lain yang hanya dikuasai satu maskapai, tiketnya otomatis gila-gilaan. Situ nggak ada uang? ya monggo, tidak usah naik pesawat. Logika hebat dari pejabat. 9 juta penumpang yang dibawa Air Asia, menghubungkan Bandung ke Kuala Lumpur, Singapore, turis luar negeri itu datang ke Bandung naik Air Asia. Mereka melakukan sesuatu yang sangat kongkret. Penerbangan murah tidak identik dengan safety murahan. Tiket promo, tidak identik dengan promo keselamatan.

Nah, kalau pejabat memang masih mau mara-marah. Silakan. Tapi marahlah lebih dulu ke diri sendiri. Itu lebih bermanfaat. Kami ini capek lihatnya, Pak. Semua orang bicara tentang safety, tapi bapak harus tahu, justeru pak pejabat-lah yang paling susah disuruh matikan HP di atas pesawat. Saya nggak bohong, Pak. Yang nampar pramugari (saat diingatkan soal HP), yang nampar petugas loket (karena tidak sabaran, emosi), itu bukankah geng kalian? Pejabat! Yang sok berkuasa betul di atas pesawat, lihat saja, bukankah teman-teman sejenis kalian?

Monggo kalau mau dilanjutkan marahnya. Tapi tolong, setelah itu pastikan ada perubahan signifikan. Bukan hanya sibuk nyari kambing hitam, untuk lupa, kitalah yang sejak lama sudah jadi “kambing hitam”-nya.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.