Monthly Archives: September 2015

Berusaha mengikhLaskan, gak usah diingat2, malah nemu ini….
#jleb bgt gak siiiih???
*colek diri sendiri…. 😭😭😭😭😭

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kenapa pengen Kurban??

Engga punya uang, hutang belum lunas, tp tetap ngotot mimpi kurban..
Udah dibilang engga wajib apalagi belum punya penghasilan, tetap aja ingin kurban…
Belum bisa nabung, masih dikasih ortu, si kurban tetap menghantui…

Bukan karena memaksakan keinginan, tapi cobalah lihat lebih dalam…
Betapa indahnya pengorbanan yg dilakukan Nabi Ibrahim dan IsmaiL dalam menjalankan perintah Allah..
Betapa mulianya perintah ini..
Haji pun dilakukan, rukun Islam yg paling “tinggi” dilaksanakan hanya pada saat Hari Raya Kurban, tak bisa di hari lain…
Cobalah cri riwayat2, kisah2 lain yang menuliskan bagaimana istimewanya orang yg berkurban..
“Ingin kendaraan ke Syurga?? Hayooo kurban… ”

Ya Allaaaah…
Bantu hamba untuk mewujudkan mimpi ini meski keadaan bilang impossible..
Tak ada yg tak mungkin di sisi-Mu ya Allah…
Dan, mudahkanlah rizki semua saudara2 hamba yang mempunyai mimpi yg sama meski semua orang bilang tak wajib…
*muhasabah menuju 24 September
*selagi masih single belum punya banyak tanggungjawab
*mari berjuang…

Bismillahirrahmanirrahim… 🙌🙌🙌🙌

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mudah-mudahan seluruh umat Islam dapat berfikir positif menghadapi musibah jatuhnya crane di MasjidiL Haram. BiarLah umat lain sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi tidak dengan kita. Mari do’akan seluruh saudara kita yang menjadi korban pada kejadian ini…

~”Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).~

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ‘indaka ahtasibu musibati fa ajirni fiha wa abdilni minha khaira
(Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali.
Ya Allah aku pasrah padaMu atas musibah ini, maka berilah aku pahala dan gantilah dengan yang lebih baik.)

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

*Tak Ada Ruginya

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Jika kita bekerja kantoran, belasan tahun, bahkan puluhan tahun, untuk kemudian, cita-cita masa muda kembali datang menghampiri. Ingin terbang bebas, menggapai angkasa luas. Maka, tiada ruginya mengikuti kata hati. Berhenti dari pekerjaan tetap, mulai mengejar cita-cita lama. Beresiko memang, ragu-ragu tentu saja, cemas, karena kemapanan dan kenyamanan memang selalu membuat kita tidak mau berubah. Tapi tetapkan niat, ambil keputusan. Hidup ini pendek, saat kita sudah senja, kita akan berdiri, menoleh ke belakang, agar tiada sesal kelak.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Jika teman-teman kita ramai-ramai masuk sebuah jurusan atau fakultas tersohor, yang di sana konon katanya, pekerjaan dan masa depan lebih terjamin, sedangkan kita punya pilihan berbeda sendiri. Maka, tiada ruginya mengikuti kata hati. Genapkan keputusan memilih jurusan/fakultas kita. Tidak masalah tidak terlihat keren, canggih atau hebat. Pun tidak mengapa jika orang-orang berbisik, atau keberatan. Hidup ini pendek sekali, hanya sekejap mata, tiba-tiba kita sudah lulus kuliah. Sungguh beruntung orang-orang yang belajar dengan riang, karena pilihan sendiri, tahu persis hendak menjadi apa. Itu jauh lebih penting dibanding hal hebat menurut kaca mata dunia, apalagi dibanding komentar orang lain.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Hidup ini dipenuhi pilihan. Setiap pilihan selalu punya resiko. Ada seorang ibu yang hendak full mengurus anak-anak dan keluarga. Ada seorang anak muda hendak merantau jauh menimba ilmu. Ada seorang profesional harus memutuskan masa depannya. Bahkan remaja di sekitar kita, juga tidak bisa lepas dari pilihan-pilihan hidup. Maka, saat kita ada di persimpangan jalan, jangan kalut dan jangan bimbang, tersenyumlah, kawan, tiada rugi mendengarkan kata hati. Ambil keputusan.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Karena hidup ini pendek sekali. Selalu hiasi dengan ahklak terbaik, selalu bermanfaat bagi banyak orang. Semoga kelak, kita berdiri di penghujung jalan, menoleh. Tersenyum lega. Kita pernah melakukannya. Soal berhasil atau tidak, itu rahasia Tuhan…

~ Tere Liye ~

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.