Monthly Archives: Oktober 2015

Hidup itu Pilihan atau Takdir??
Diintisarikan dari Ceramah Ust. Felix Siauw..

Pilihan atau Takdir??
× Bisa Pilih maka itu pilihan, akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah
(contoh : mau make baju apa, makan apa hri ini)
× Tidak bisa memilih maka itu takdir, tidak akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah
(contoh : mau hidung seprti apa, rambut seperti apa, itu sudah ditentukan saat lahir)..
–> Nah, anehnya manusia, suka ribet sma hal2 yg tidak akan diminta pertanggungjawabannya, dan gak ribet dgn hal2 yg akan ditanya Allah..
Sibuk mempercantik diri, tp lupa mempercantik ibadah…

∆ Dua hal yang menghalangi manusia jadi baik (memilih menjadi baik)
× karena berpikir bahwa menjadi baik atau buruk itu adalah takdir Allah yang tidak bisa dipilih
× Tidak memahami konsep hidayah sehingga hidayah dijadikan kambing hitam, “Saya ingin menjadi baik, tapi saya belum mendapatkan hidayah”..
–> padahal sesungguhnya, hidayah itu sudah ada pada setiap manusia, yaitu hidayah akal..

∆ Hidayah itu ada tiga :
× Hidayah yang turun bersamaan penciptaan manusia –> akal
× Hidayah yang diturunkan Allah kpada Rasul-Nya –> Al-Qur’an & As-sunnah
× Hidayah yang kita minta setiap harinya melalui al-fatihah dan do’a –> hidayah Taufik..
“Maka, apabila akal digunakan untuk mempelajari Al-qur’an dan Hadits, maka Allah dgn senang hati akan menurunkan hidayah Taufik..
Tapii, jika akal tidak pernah digunakan untuk mengambil pelajaran dr perumpamaan dan hikmah di dalam Al-Qur’an, maka berdo’a seprti apa pun, Allah akan malas untuk menurunkan Taufik nya…”

∆ Sesungguhnya, hanya tiga golongan manusia yg Allah tidak akan berikan petunjuk padanya..
× Golongan orang Kafir (di luar Islam)
× Golongan orang fasik (orang Islam yg tak percaya pd janji Allah)
–> orang yang sudah tau mana yg baik dan buruk, tp tetap melakukan yg buruk
× Golongan orang zalim (munafik trmasuk kezaliman)

“Kafir, fasik, zalim adalah pilihan. Apabila mereka berhenti, maka Allah akan turunkan hidayah pada mereka..
.: Jadi, apabila kita tidak atau belum mendapatkan hidayah, bisa jd karena kita masih menjadi orang Kafir, zalim, atau fasik”..

Reaksi awal saat orang mendapatkan hidayah adalah bingung, pusing, ribet, karena gak ada orang yg langsung mengerti ketika mendapatkan hidayah, kecuali Abu Bakar Ash Shidiq..
*Hidayah itu seprti Peta, semakin dekat, maka kita semakin yakin. Kalau lihat aja, maka kita gak pernah bakalan sampe, udh mikir ribet duluan…

Maka, yang paling mengetahui cara untuk menggapai Ridho-Nya dan Jannah-Nya adalah Allah. Kita tinggal mengikuti saja apa yg terdapat pada pedoman yg telah diturunkan Allah..

Take action, langsung praktek, jgn membantah, dan yakinlah bahwa janji Allah itu pasti…

*Sayangnya, manusia mikirnya banyak..
Berbuat baik mikirnya panjang, tapi berbuat jelek gak pake mikir. Seharusnya, berbuat baik gak pake mikir, berbuat jelek pikir2 dulu…

BUKAN YAKIN DULU BARU BERBUAT, TAPI BERBUAT DULU BARU YAKIN.
TAKE ACTION!!!

PS :
* Ada PSK, ditangkap oleh polisi, dia bilang..
“Kenapa Anda jd PSK??”
“Yaaa, mau gimana lg Pak? Takdir saya jd PSK”..

Itu bukan takdir namanya, itu mah doyan…
Krna tentu saja kalau kita percaya sma janji Allah, pekerjaan itu adalah sesuatu yg bisa dipilih..

* Truuuus ada pula cerita Pak Hakim dan pencuri…
Hakim : benar kamu telah mencuri??
Pencuri : Iya Pak
H : maka kamu harus dipotong tangannya
P : sebentar Pak, saya boleh kan membela diri??
H : silahkan
P : Bapak, Ibu sekalian, apakah percaya bahwa Allah maha tau?? Berarti apa yg saya kerjakan tadi pagi, mencuri, Allah sudah tau. Allah sudah tau kmrn, Allah sudah tau dua bulan yg lalu, bahkan Allah sudah tau bertahun2 yg lalu kalau saya akan mencuri pagi ini. Tapi Allah tidak menahan saya, berarti Allah sudah menyetujui kalau saya mencuri. Karena kalau Allah tidak menyetujui, kehendak Allah dgn kehendak manusia, mana yg terjadi?? Pasti kehendak Allah kan??
Manusia selalu berkata, bahwa manusia hanya berusha tp Allah yg menentukan. Kalau saya berusaha untuk mencuri tp Allah gak menentukan, jd gak tu pencurian??
Berarti ini sudah kehendak Allah Bapak-Ibu sekalian, sudah tertulis di Lauful Mahfudz..
Berarti pencurian ini bukan keinginan saya, tp sudah tertulis pada jam segini, pukul segini, bahwa saya akan mencuri, berarti saya bebas Bapak, Ibu sekalian??
H : Sebenarnya Sya ingin mengerti, tp potong tangannya algojo
(Setelah dipotong)
H : sesungguhnya saya gak mau motong tangan kamu, tp ini bukan kehendak saya ini. Ini adalah kehendak Allah. Allah sudah tahu bahwa pada hari ini tangan kamu akan dipotong tp Allah gak menghalangi, berarti Allah sudah acc…

Itu contoh kisah orang yg ngeles..
Menganggap semua sudah takdir Allah…
Seharusnya kalau dia punya akal, punya agama, klo di tempat yg sesat pun, klo dia pake akalnya buat mikir, maka gak akan pernah kejadian hal2 yg dilarang oleh Allah… – with Ega

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KISAH SAHABAT SYA’BAN RA:
MENYESAL SAAT SAKARATUL MAUT

Alkisah seorang sahabat bernama Sya’ban RA.
Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat – sahabat yang lain.
Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah senderan atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah.

Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa.
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun bertanya kepada jemaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban RA.
Namun tak seorangpun jemaah yang melihat Sya’ban RA.
Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang.
Khawatir sholat subuh kesiangan, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA.
Namun tak ada seorangpun yang menjawab .
Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban RA.
Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA.
RasululLah Shallallahu `alaihi Wa Sallam yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumah Sya’ban RA.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam dan rombongan sebelum sampai ke rumah yang dimaksud.
Rombongan Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha
( kira-kira 3 jam perjalanan).
Sampai di depan rumah tersebut beliau Shallallahu `alaihi Wa Sallam mengucapkan salam.
Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

“Benarkah ini rumah Sya’ban RA?” Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam bertanya.
“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut. “
Bolehkah kami menemui Sya’ban RA, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?” .
Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:
“ Beliau telah meninggal tadi pagi”
InnaliLahi wainna ilaihirojiun…SubhanalLah ,
satu – satunya penyebab dia tidak solat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya….

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam
“ Ya Rasul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua,
yaitu menjelang kematiannya dia berteriak tiga kali dengan masing – masing teriakan disertai satu kalimat.
Kami semua tidak paham apa maksudnya”.
“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam .
Di masing – masing teriakannya dia berucapkalimat

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Rasul Shallallahu `alaihi Wa Sallam pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22 yang artinya:
“ Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam “

Saat Sya’ban RA dalam keadaan sakratul maut…
perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Bukan cuma itu, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Apa yang dilihat oleh Sya’ban RA ( dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain.
Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban RA melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke Masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.
Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah – langkah nya ke Masjid.
Dia melihat seperti apa bentuk sorga ganjarannya.
Saat melihat itu dia berucap:

“ Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban RA,
mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban RA melihat saai ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin.
Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dinginyang menusuk tulang.
Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju.
Sya’ban RA sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar.
Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar, sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan solat dengan baju yang lebih bagus.
Dalam perjalanan ke tengah masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi yang mengenaskan.
Sya’ban RA pun iba , lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama – sama ke masjid melakukan sholat berjamaah.
Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.
Sya’ban RA pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut.
Kemudian dia berteriak lagi :

“ Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban RA.
Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban RA melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Bagi yang pernah ke tanah suci sudah tentu mengetahui sebesar apa ukuran roti arab (sekitar 3 kali ukuran rata-rata roti Indonesia)

Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberikan sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.
Melihat hal tersebut , Sya’ban RA merasa iba .
Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar,
demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua.
Kemudian mereka makan bersama – sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu , dengan porsi yang sama…
Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian memperlihatkan ….
ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan sorga yang indah.
Demi melihat itu diapun berteriak lagi:

“ Aduuuh kenapa tidak semua……”

Sya’ban RA kembali menyesal .
Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat sorga yang lebih indah

Masyaallah,

Sya’ban bukan menyesali perbuatannya,
tapi menyesali mengapa tidak optimal.
Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas …konsekwensi dari semua perbuatannya di dunia.
Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah.
Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat diakhirkan

Sering sekali kita mendengar ungkapan – ungkapan berikut :
“ Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam”
“ Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam”
“ Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya”

Namun lihatlah Masjid tetap saja lengang dan terasa longgar.
Seolah kita tidak percaya kepada janji Allah Subhanahu wa Ta’ala .
Mengapa demikian?
Karena apa yang dijanjikan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal.
Mata kita tertutupi oleh suatu hijab.
Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah meleset.
Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membuka hijab itu pada saatnya.
Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan….

Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

…from : FamilyGuide
:: Ibu Pendidikan ::

Di Jepang ada namanya “kyoiku mama” (ibu pendidikan) para ibu di Jepang rata-rata tidak bekerja, tapi hanya untuk mendidik dan mengurusi anak2 mereka mulai bangun, berangkat pulang sekolah, kursus, les, sampai tidur lagi, semuanya di bawah didikan sang ibu.

Para kyoiku mama ini menanamkan kesopanan, kebersihan pada anak mereka, rata2 mereka lulusan S1/S2. Mereka sekolah tinggi bukan untuk berkarier tapi “mendidik anak” itulah karier mereka yang tertinggi.

Dan kemajuan ekonomi Jepang adalah karena ditopang oleh kyoiku mama ini makanya tidak heran kalau orang Jepang itu disiplin, etos kerja tinggi, menjaga kebersihan itu semua hasil didikan para kyoiku mama, sehingga sekolah hanya untuk menstransfer ilmu saja.

Sementara “Ryousai kenbo” adalah slogan yang kembali digalakkan pemerintah Jepang, istilah ini muncul di jaman restorasi Meiji dan banyak dianut keluarga Jepang untuk mewujudkan keluarga harmonis ideal.

Ryousai: istri yg baik
Kenbo: ibu yang bijaksana

Intinya menyerukan bahwa wanita peran terhormat sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.

Peran perempuan sebagai menteri dalam negeri dan motivator domestik rumah tangganya dan peran lelaki jadi menteri luar negri keluarganya sebagai motivator logistik dan publik.

Di Jepang peran ini kembali digalakkan karena sekarang perempuan memilih melajang menjadi wanita karier sehingga presentasi pertumbuhan penduduk muda usia produktif di negara mereka menurun.

Tentu saja kasus kekerasan remaja dan bunuh diri di Jepang pada usia sekolah terus bertambah karena tidak terpenuhinya kualitas hubungan ibu dan anak yang menunjang pertumbuhan emosi anak.

Jadi wajar pemerintahan Jepang sangat memberi tempat terhormat pada peranan ibu rumah tangga yang berkualitas, karena kemajuan bangsanya kelak pun tetap ditopang oleh kualitas ibu-ibu rumah tangganya sebagai pembentuk kualitas karakteranak anak mereka.

Sungguh luar biasa, “ibu rumah tangga adalah profesi idaman” di Jepang. Bagaimana dg kita? share yukk kepada teman-teman kamu yang wanita betapa bangga nya menjadi seorang wanita

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar


Fabiayyi ala irabbikuma tukadziban??
Ceritanya, tengah malam ada yg nungguin buat bisa potong kue bareng. Bukan mengistimewakan jam 12 nya siiih, tp krna cma bisa ketemu nya maleeem. Bsk pagi2 udah hrus dinas lagiii…
Naaaaah, yg ngajakin potong kue udah ketiduran, gak enak buat bangunin, akhirnyaaaa malah ikut bobo juga…
Jam 12 malem, dibangunin sma BuPon @labitebi , buat ngasih brownies cake….
Hhhmmmmm….
Tapiii orangnya tak ade. Masa disuruh perayaan ultah sendiri, potong kue sendiri, sma makan kue sendiri tengah malem. Hahahahahahaha…

Okeeeei, kuenya masih utuh sampe sekarang…
Mariiii kita rayakan buat yg sudah banguuuuun….
Pestanya subuh2 aja yaaa…
Hihihihihihihi…

Alhamdulillah, senangnyo punya keluarga, sahabat yg sayaaaaaaaang banget sama Nia sampe sekarang, dan nanti tentunya, In Sya Allah…

Makasiiiiih cakenya BuPon, Ayah @thundermary , Mimmo @nhajiib , sma Pippo @astenbardo …😘😘😘😘 – with asten, Poni, Ega, Hendra, jannatul, and Indah

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KENAPA KITA MESTI KELUAR NEGERI?
By : Angga Dwi Putra

Saya tergelitik nulis ini gara2 banyak yang komen nyinyir ke saya bahkan ada yang sampe kirim message sambil bilang: “Ngapain keluar negeri, Indonesia udah indah. Ga perlu ke negara orang”. Menurut saya ini tipe orang yang close minded, dan biasanya insecure. Begitu ditanya udah keliling kemana aja di Indonesia, dia diam seribu bahasa. Gimana bisa bandingin kalo belum pernah ke dua2nya? Bisa juga itu tanda denial, iri tapi ga kesampean. Ga enak tau pacaran sama Pevita Pearce, mending ama cw biasa. “Emang lo udah pernah pacaran sama Pevita?”. Belon. “Lah, terus tau darimana ga enak?” kira2 gitu analoginya.

Cinta Indonesia itu wajib, tapi jangan sampe berpikiran sesempit itu. Saya udah ke 11 provinsi (cita2 pengen kesemua), emang bener Indonesia itu indah banget. Begitupun di luar negeri. Ada yang cuma ada di Indonesia tapi ga ada di negara lain dan sebaliknya. Emang mungkin kita liat aurora disini? Atau ngeliat betapa megahnya pegunungan Alpen? Kan nggak.

Sayangnya, banyak orang lain yang masih ngira kalo travelling itu cuma sekedar “Where you go”. Selfie depan landmark, nginep di hotel, trus pulang. “Been there, done that, that’s it”. Banyak yang lupa pertanyaan lain: “who do you meet, what do you learn, and how it changes you”. Yang sebenenernya itu penting banget.

Saya pernah ke negara super maju macem Swiss dan Scandinavia, tapi saya juga pernah ke negara yang acak adut kaya Kenya, Tanzania juga India (saya ga bilang mereka jelek ya), pokoknya masih mendingan kita lah. Tapi disitulah saya banyak belajar.

Pas saya lagi di Swiss atau Sweden, saya iri setengah mati. Ahhh alangkah indahnya andai Indonesia bisa kaya disana. Transportasinya super nyaman, sekolah+rumah sakit semua gratis. Jaminan sosial terjamin, cuti melahirkan buat bapak ibunya tapi gaji jalan terus, kerja maksimal sampai jam 5 sore. Sungguh manusiawi.

Saya pernah ngobrol panjang lebar waktu sekamar sama traveler dari Tunisia pas di Stockholm juga sama orang Turki pas di Rumania. Kenapa kita yang Muslim ga bisa niru mereka? Kenapa mereka yang sebagian besar atheis justru jauuuuuh lebih manusiawi, lebih berakhlak? Berat ngobrolnya sampe jam 2 pagi. Kalau begitu apa peran agama? Kenapa ga ada satupun negara islam yang bener2 maju? Wah seru deh pokoknya. Kadang ngobrol gitu justru jauh lebih seru daripada jalan2nya. Dan itulah alasan utama saya selalu nginep di hostel.

Tiap ke satu negara saya usahain ngobrol sama orang sana. Waktu di Yunani sama Portugal, kita ngobrol panjang lebar tentang ekonomi. Berhubung mereka ekonominya lagi kacau banget. Ada apa sih sebenernya, apa efeknya buat orang sana. Kepake banget pas ditanya tentang krisis Eropa pas wawancara kerja.

Di Norway yang segitu majunya tapi kok masih ada orang kaya Anders Breivik? Yang walau udah ngebunuh 70 orang tapi kagak divonis mati. Bahkan penjaranya kaya hotel berbintang. Kok bisa? Di Denmark saya nanya kenapa mereka bisa jadi negara paling enak ditinggali? Kenapa angka korupsi mereka rendah banget? Saya juga baru tau ga semua orang Swedia suka sama Zlatan.

Hidup diluar negeri juga ngebuka mata saya. Dua tahun di Prancis ngajarin saya betapa beratnya hidup di negara individualistic. 2 tahun saya ga tau siapa yang tinggal di kamar sebelah. Di Paris saya ngerasain hidup bareng semua ras manusia yang ada, dengan segala beda agama dan budaya. Pas di Jerman, saya ngerasain langsung gimana disiplinnya mereka, gimana mereka ngambek kalo bis telat dikit. Itu semua ngebuat saya ngilu, mengkhayal kapan Indonesia bisa ngejar kaya mereka.

Di sisi lain pas saya ke Kenya, ngeliat betapa bobroknya bandaranya, jalan yang ancur lebur, atau pas ke India liat kereta sebegitu penuhnya, gelandangan dimana mana, saya jadi ngerasa bersyukur jadi orang Indonesia. Orang kita ramah, kita bebas beribadah, jajanan ada dimana mana (ini yang wahid banget), makanan kita enak, kita ga ngerasain dinginnya salju, banyak hal yang bisa disyukuri. Denger langsung cerita orang Nairobi yang tinggal di ghetto, dengerin orang India yang curhat gimana beratnya hidup disana, itu semua ngebuat saya bersyukur banget saya orang Indonesia.

Andaikan ga traveling, darimana kita bisa dapet pengalaman itu? Cuma liat dari berita tv doang? Ga nendang bro. Traveling bener2 ngajarin banyak hal. Gimana kita harus tetep cool when shit happens, kita wajib jago ngatur waktu ngatur uang, kita dipaksa harus jadi orang yang easy going, juga dipaksa ngomong bahasa asing. Susah kalo kita cuma stay di Indonesia. 
So setelah ngeliat dua kutub yang begitu kontras, kita bisa banyak belajar. Kita bisa ambil nilai2 positif dari masing2.

Kita bisa dibilang bangsa yang religius, so bayangin betapa dahsyatnya Indonesia andaikan moral kita kaya orang Eropa Utara sana, kita tiru hausnya mereka akan teknologi bukan cuma sekedar pemakai tapi pencipta, belajar disiplin mereka, plus pemerintahnya ga korup. Disokong akhlak dari agama, sekalian bersyukur masih banyak negara lain yang lebih merana dari kita, dijamin kita bisa bakal maju pesat. Sayangnya kita sekarang ribut hajar sana sini ke saudara sendiri. India aja udah sibuk ngeluncurin roket kita sibuk ngurusin hal yang ga penting sama sekali.

Kadang kita terlalu terpaku sama “rumput tetangga lebih hijau”, iri sama Singapura tapi ga ada action. Tapi kadang kita sendiri ga sadar kalo kita pun bikin tetangga laen iri dengan kehijauan kita. Tanah kita subur, penduduk kita banyak, kita kaya budaya dan sumber daya. Bahkan tetangga yang punya rumput paling ijo pun kadang masih aja ada masalah. Nah kalo selama ini kita cuma maen di kebon kita aja, kok berani2nya bilang kita ga perlu nengok tetangga laen?

So, masih berargumen ga perlu keluar negeri? Masih ngira traveling itu cuma foto selfie terus pulang? Alangkah sayangnya. Saya doakan semoga temen2 disini diberi rejeki biar bisa nengok dunia luar, bisa belajar dari pengalamannya, trus bantu ngebangun Indonesia ini.

Indonesia itu indah. Begitupun dunia. 
Cheers

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

:: Jauhkan Anakmu dari Kemudahan ::

Seorang mahasiswi mengeluh. Dari SD hingga lulus S-1, ia selalu juara. Namun kini, di program S-2, ia begitu kesulitan menghadapi dosennya yang menyepelekannya. Judul tesisnya selalu ditolak tanpa alasan yang jelas. Kalau jadwal bertemu dibatalkan sepihak oleh dosen, ia sulit menerimanya.
Sementara itu, teman-temannya, yang cepat selesai, jago mencari celah. Ia menduga, teman-temannya yang tak sepintar dirinya itu “ada main” dengan dosen-dosennya. “Karena mereka tak sepintar aku,” ujarnya. Banyak orangtua yang belum menyadari, di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak-anaknya semasa sekolah, mereka menyandang persoalan besar: kesombongan dan ketidakmampuan menghadapi kesulitan. Bila hal ini saja tak bisa diatasi, maka masa depan ekonominya pun akan sulit. Mungkin inilah yang perlu dilakukan orangtua dan kaum muda: belajar menghadapi realitas dunia orang dewasa, yaitu kesulitan dan rintangan.

Hadiah Orangtua
Psikolog Stanford University, Carol Dweck, yang menulis temuan dari eksperimennya dalam buku The New Psychology of Success, menulis, “Hadiah terpenting dan terindah dari orangtua pada anak-anaknya adalah tantangan”.

Ya, tantangan. Apakah itu kesulitan-kesulitan hidup, rasa frustrasi dalam memecahkan masalah, sampai kegagalan “membuka pintu”, jatuh bangun di usia muda. Ini berbeda dengan pandangan banyak orangtua yang cepat-cepat ingin mengambil masalah yang dihadapi anak-anaknya.

Kesulitan belajar mereka biasanya kita atasi dengan mendatangkan guru-guru les, atau bahkan menyuap sekolah dan guru-gurunya. Bahkan, tak sedikit pejabat mengambil alih tanggung jawab anak-anaknya ketika menghadapi proses hukum karena kelalaian mereka di jalan raya.

Kesalahan mereka membuat kita resah. Masalah mereka adalah masalah kita, bukan milik mereka.

Termasuk di dalamnya adalah rasa bangga orangtua yang berlebihan ketika anak-anaknya mengalami kemudahan dalam belajar dibandingkan rekan-rekannya di sekolah. Berkebalikan dengan pujian yang dibangga-banggakan, Dweck malah menganjurkan orangtua untuk mengucapkan kalimat seperti ini: “Maafkan Ibu telah membuat segala sesuatu terlalu gampang untukmu, Nak. Soal ini kurang menarik. Bagaimana kalau kita coba yang lebih menantang?”
Jadi, dari kecil, saran Dweck, anak-anak harus dibiasakan dibesarkan dalam alam yang menantang, bukan asal gampang atau digampangkan. Pujian boleh untuk menyemangati, bukan membuatnya selalu mudah.

Saya teringat masa-masa muda dan kanak-kanak saya yang hampir setiap saat menghadapi kesulitan dan tantangan. Kata reporter sebuah majalah, saya ini termasuk “bengal”. Namun ibu saya bilang, saya kreatif. Kakak-kakak saya bilang saya bandel. Namun, otak saya bilang “selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan”.

Begitu memasuki dunia dewasa, seorang anak akan melihat dunia yang jauh berbeda dengan masa kanak-kanak. Dunia orang dewasa, sejatinya, banyak keanehannya, tipu-tipunya. Hal gampang bisa dibuat menjadi sulit. Namun, otak saya selalu ingin membalikkannya. Demikianlah, hal-hal sepele sering dibuat orang menjadi masalah besar. Banyak ilmuwan pintar, tetapi reaktif dan cepat tersinggung. Demikian pula kalau orang sudah senang, apa pun yang kita inginkan selalu bisa diberikan.

Panggung Orang Dewasa
Dunia orang dewasa itu adalah sebuah panggung besar dengan unfair treatment yang menyakitkan bagi mereka yang dibesarkan dalam kemudahan dan alam yang protektif. Kemudahan-kemudahan yang didapat pada usia muda akan hilang begitu seseorang tamat SMU. Di dunia kerja, keadaan yang lebih menyakitkan akan mungkin lebih banyak lagi ditemui.

Fakta-fakta akan sangat mudah Anda temui bahwa tak semua orang, yang secara akademis hebat, mampu menjadi pejabat atau CEO. Jawabannya hanya satu: hidup seperti ini sungguh menantang. Tantangan-tantangan itu tak boleh membuat seseorang cepat menyerah atau secara defensif menyatakan para pemenang itu “bodoh”, tidak logis, tidak mengerti, dan lain sebagainya.

Berkata bahwa hanya kitalah orang yang pintar, yang paling mengerti, hanya akan menunjukkan ketidakberdayaan belaka. Dan pernyataan ini hanya keluar dari orang pintar yang miskin perspektif, dan kurang menghadapi ujian yang sesungguhnya.
Dalam banyak kesempatan, kita menyaksikan banyak orang-orang pintar menjadi tampak bodoh karena ia memang bodoh mengelola kesulitan. Ia hanya pandai berkelit atau ngoceh-ngoceh di belakang panggung, bersungut-sungut karena kini tak ada lagi orang dewasa yang mengambil alih kesulitan yang ia hadapi.

Di Universitas Indonesia, saya membentuk mahasiswa-mahasiswa saya agar berani menghadapi tantangan dengan cara satu orang pergi ke satu negara tanpa ditemani satu orang pun agar berani menghadapi kesulitan, kesasar, ketinggalan pesawat, atau kehabisan uang.

Namun lagi-lagi orangtua sering mengintervensi mereka dengan mencarikan travel agent, memberikan paket tur, uang jajan dalam jumlah besar, menitipkan perjalanan pada teman di luar negeri, menyediakan penginapan yang aman, dan lain sebagainya. Padahal, anak-anak itu hanya butuh satu kesempatan: bagaimana menghadapi kesulitan dengan caranya sendiri.

Hidup yang indah adalah hidup dalam alam sebenarnya, yaitu alam yang penuh tantangan. Dan inilah esensi perekonomian abad ke-21: bergejolak, ketidakpastian, dan membuat manusia menghadapi ambiguitas. Namun dalam kondisi seperti itulah sesungguhnya manusia berpikir. Dan ketika kita berpikir, tampaklah pintu-pintu baru terbuka, saat pintu-pintu hafalan kita tertutup.

Jadi inilah yang mengakibatkan banyak sekali orang pintar sulit dalam menghadapi kesulitan. Maka dari itu, pesan Carol Dweck, dari apa yang saya renungi, sebenarnya sederhana saja: orangtua, jangan cepat-cepat merampas kesulitan yang dihadapi anak-anakmu. Sebaliknya, berilah mereka kesempatan untuk menghadapi tantangan dan kesulitan. (Penulis: Rhenald Khasali)

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Resonansi…
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Asma Nadia

Sudah dua bulan lebih ladang milik Bapak terbakar. Bisa dibilang, memang  setiap kemarau datang,  ladang Bapak selalu mengalami kebakaran. Asap tebal menghitam menyebar ke mana-mana, hingga ke kampung sebelah dan mengganggu kesehatan dan aktivitas warganya.

Sekalipun ladang yang terbakar sebagian besar dalam status sedang disewa para kolega, kenyataannya, anak buah Bapaklah yang sibuk memadamkan api. Sedang  koleganya yang  rutin  menguras keuntungan dari ladang tersebut, mendadak menghilang entah  di mana setiap terjadi kebakaran

Padahal biaya sewanya murah. Sementara laba yang mereka dapatkan besar sekali. Tetap saja para penyewa hanya mengambil cara mudah  membuka lahan, tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Salah satu akibatnya, api berkobar melantakkan hutan. Tapi seperti sebelumnya, pihak  terkait berlepas tangan. Ujung-ujungnya Bapak juga yang mengatasi. Sedangkan para kolega yang bertanggung jawab atas insiden itu, konon orang-orang sukses sekaligus punya nama besar.

Untunglah asap tidak pernah sampai menyentuh rumah. Jadi, sekalipun sedikit tertekan, Bapak bisa tidur pulas dan beraktivitas seperti biasa.
“Ladang  sudah  dua bulan kebakaran, kok, nggak beres-beres?” protes Ibu suatu hari.
“Sejak hari pertama anak buah dari kota sudah dikerahkan untuk memadamkan. Jangan anggap Bapak nggak kerja!”

“Iya, Ibu tahu, tapi orang kan menunggu hasilnya!”
“Lah, yang penting itu kerjanya, Bapak sudah maksimal, kok. Tuhan melihat apa yang kita kerjakan. Soal hasil, kan Dia yang menentukan.”
Kilah Bapak tanpa rasa bersalah.

Di sela-sela pembicaraan, si bungsu yang masih duduk di Sekolah Menengah muncul.
“Pak, teman-temanku dari kampung sebelah  kirim salam. Kata mereka terima kasih, karena jasa asap Bapak, mereka diliburkan tanpa batas waktu.”
Bapak melongo, bingung harus bangga atau malu.

Sementara anak keduanya yang masih kuliah, begitu muncul langsung berbicara panjang lebar.
“Kenapa, sih, Pak kita nggak dari kemarin-kemarin minta bantuan sama kampung sebelah. Mereka punya tangki air yang jauh lebih besar dan alat semprot yang lebih canggih. Jadi, masalah asap bisa segera selesai. Apalagi mereka bilang siap membantu!”
Mendengar usulan tersebut Bapak mendelik.

“Kamu mau mempermalukan Bapak?  Itu sama saja bilang Bapak tidak sanggup mengatasi hal sepele kayak gitu. Mau kamu keluarga kita dianggap lembek? Bapak masih bisa, kok, mengatasi, tidak usah minta bantuan. Sekalipun kampung tetangga  punya alat yang lebih hebat.”

“Tapi ini sudah dua bulan lebih. Kita sudah terbukti tidak mampu. Korban sudah berjatuhan. Atau Bapak sewa saja, kalau malu minta bantuan. Bilang kita sewa, nanti dibayar. Yang penting api padam, asap hilang dulu!”

Bapak tampak manggut-manggut. Kalaupun sewa, uang sebenarnya ada, bahkan bisa gratis karena kampung sebelah memang berkali-kali menawarkan bantuan.
Di sisinya, sang anak terus menguraikan ide.

“Nanti semua biaya ditagih ke para penyewa atau kolega Bapak yang seharusnya bertanggung jawab!”

Bapak baru akan membuka mulut ketika telepon tiba-tiba berdering.
Dari ujung telepon terdengar suara tangis–membawa berita duka. Wajah Bapak spontan berubah pias. Cucu semata wayangnya, anak dari putra sulung yang tinggal di kampung sebelah, terkena infeksi saluran pernapasan akut, dan kini dirawat di rumah sakit. Bocah berusia lima tahun itu sedang berjuang antara hidup dan mati, semua gara-gara asap.

Meski dilanda kesedihan  Bapak masih tampak ragu. Hingga si bungsu memecah keheningan.
 “Apalagi yang ditunggu, Pak?” ujarnya sambil menyerahkan telepon. “Hubungi kepala desa sebelah. Tidak ada harga diri yang pantas dibayar dengan nyawa cucu bapak, atau siapapun.”

Tapi Bapak belum beranjak dari kediaman. Ibu yang mulai terisak mendekat dan pelan-pelan bicara.
“Bukannya Ibu mau menggurui, tapi coba baca dua ayat ini, Pak.”
Telunjuk ibu mengarah pada sebuah ayat dalam Al-Qur’an.
 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuro: 30)

Mungkin memang Bapak belum maksimal, pikirnya. Mungkin sesuatu yang cukup baik tetap harus ditingkatkan menjadi lebih baik, apalagi dalam situasi darurat. Kabut masih menyelimuti pikiran Bapak ketika sekonyong-konyong angin berubah arah.
Asap dari kampung sebelah berbondong-bondong menuju rumah Bapak. Laki-laki itu merasa matanya mendadak perih, sementara kerongkongan gatal hingga dia terbatuk-batuk parah. Asap terus bergerak, menebal, mengunci pandangan Bapak juga Ibu.

Tangan laki-laki setengah baya itu meraba-raba mencari telepon yang belum lama diletakkan di meja.Kali ini tak ada keraguan, tanpa menunda apa pun,  ia  menelepon semua orang.
“Halo, apakah bisa kampung Saudara membantu saya….”
“Halo, bisa disediakan oksigen dan masker….”
“Halo, tolong segera dicairkan dana untuk atasi asap….”
“Halo, ya, semua penyewa tidak tanggung jawab akan saya tuntut….”
“Halo….?”

Di sela kepanikan Bapak dan asap yang memenuhi rumah, Ibu dan anak-anak saling pandang.
Bapak… Bapak….. Giliran diri yang terkena asap, baru berpikir mengatasi secepat mungkin dengan segala sumber daya yang ada. Padahal seharusnya seseorang tidak harus menjadi korban dulu untuk sungguh-sungguh peduli pada penderitaan sesama.

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar


Pagi ini pikiran Nia menerawang jauh ke belakang, entah usia berapa kala itu, mungkin sktar 8 thn..
Kalau orang menanyakan cita2 Nia apa, maka dengan cepat Nia akan jawab ingin jadi dokter. Tapi, sejujurnya, saat itu Nia ingin sekali menjadi kernet angkot atau jd kasir supermarket. Alasannya sederhana, krna saat itu Nia gak menemukan kernet angkot yg baik, ramah, mudah senyum, memberikan kembalian dgn sesuai tarif, lalu yg paling penting informatif. Sederhananya pemikiran saat itu, rasanya sangat senang sekali bisa membantu banyak orang yg tersasar dgn bisa memberikan petunjuk yg benar meski imbalan materi jd kernet angkot mngkn tak sbrpa..

*Dokter juga baik, tp sudah bnyak yg bercita2 jd dokter, kebayang gak kalo semua anak Indo yg ramah jd dokter. Nanti yg jd kernet yg ramah siapa?? Hahahaha… Tapiiiiiii, biar orang gak bnyak nanya lg soal cita2, Nia memang lebih sring mnjwab pengen jd dokter, dan tentu nya biar orang tua seneng juga… 😊😊😊

Usia 12 tahun saat Nia sudah bnyak berinteraksi sma buku, cita2 juga mulai berkembang, pengen jadi guru dan juga PenuLis.. Rasa2nya cita2 itu keren sekali saat itu bagi Nia. Tapiii, lagi2 Nia gak brani ungkapkan, krna rata2 guru2 di sekolah menganggap pekerjaan keren itu kalau kerja jadi dokter, insinyur, kerja di pertambangan, atau penerbangan, atau yg rata2 orng anggap keren lah. Lalu, Nia cuma simpan cita2 itu dalam diam, kunci rapat2 lalu berserah pada-Nya..

Kelas 1 SMA, ingin masuk jurusan IPS, tak diizinkan oleh wali kelas. “Nia, kamu itu mampu untuk masuk jurusan IPA, bahkan dlu kamu pernah ikut olimpiade Matematika kan??”. Oke, dihapuslah jurusan IPS yg awalnya sudah nangkring dirapor kala itu. Saya tak kuasa untuk menolak keinginan beliau..

Tapii, alhamdulillah memilih jurusan kuliah, benar2 Nia dibebaskan. Meskipun Nia tau Mama sangat brharap Nia memilih kedokteran gara2 Mama memang basicnya dr medis. Alhamdulillah karna kakak sudah ada yg meneruskan Mama, jd Nia jg gak terlalu berat buat tak mengikuti keinginan Mama.. Pun saat Nia mendaftarkan diri jurusan psikolog dan guru bahasa, Mama masih sempat menyarankan untuk ambil guru sains. “Nia kan mampu, kenapa ndak ambil saja jurusan Matematika atau IPA, atau Nia suka ekonomi juga kan?? Kenapa ambilnya bahasa?? Atau kalau bahasa, kenapa bahasa Indonesia? Kenapa gak bahasa Inggris??”..
Nia cma memandang Papa lalu bertanya,
“Papa gak pa pa kan kalau Nia jadi guru bahasa?”
Papa kemudian tersenyum dan mengangguk takzim.. Papa, I luv u, dad.. 😘😘😘
Bahkan kemudian Nia nelp Risa buat nyari dukungan. Kalau misalkan nanti Nia gagal dgn pilihan Nia, masih ada sahabat yg mensupport Nia.. Makasih ya Sa… 😁😁😁
Itulah yg kemudian meringankan langkah Nia, meski Mama awalnya masih bingung, alasan Nia ambil jurusan yg gak lazim atau gak keren atau gak punya masa depan dgn gaji yg menjanjikan mksdnya…
Hahahahahahaha…

Tapiiiiiii, begitulah Mama. Saat pengumuman SPMB keluar dan Nia diterima di Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Mama mungkin yg paling bahagia. Bahkan lebih ekspresif ketimbang Papa dan Nia sendiri. Beliau yg dgn Semangat menyiapkan slruh perlengkapan Nia untuk merantau ke pulau seberang. Masih ingat kalau selimut tebal pun beliau masukkan ke dalam koper! Tak ada lagi pembahasan, kenapa harus guru bahasa?? Mama, I luv u Mom.. 😭😭😭

Delapan tahun merantau, Nia menyadari begitu banyak sebenarnya cita2 seorang TsamaratuL Janniah. Nia tertarik pda banyak hal, tapi lebih banyak pda hal2 sosial. Nia suka hal yang berkaitan sejarah, sosiologi, al-qur’an, Hadits, psikologi, ekonomi, traveling dan bahasa tentunya (politik sejujurnya suka, tp skrng lebih dihindari, hahaha), serta Nia suka sekali belajar dan mengamati, meski msih bnyak juga malesnya… .😊😊😊

Jujur, Nia punya banyak impian, tp terlepas dari semua cita2 itu, yg paling penting Nia bisa bermanfaat buat orang lain. Hidup kaya atau miskin itu hanyalah seprti roda yg dipergilirkan oleh ikhtiar, do’a, TawakaL dan takdir Allah SWT..

Beberapa bulan yang lalu, Nia sempat bertanya kepada Ponakan yg berusia 3,5 tahun.
Nia : “Aim cita2nya pengen jadi apa?”
Aim : “Mau jadi kyak Abi aja”.
Nia : ” Maksudnya? Aim mau jd pengusaha?”
Aim : “Bukan, mau jadi tukang cuci mobil aja, main sma air tiap hari”.. (Dan itu Aim ngomongnya serius loh, krna Aim emng hobi bgt sma air, ha-ha)..
*Aim sering lihat Abinya di tempat Car Wash lagi cuci mobil. Krna kadang pegawai Uda yg lain pda ada customer, jd Uda nyuci mobilnya sendiri..

Terlihat kan??
Kdang anak2 pemikirannya lebih sederhana drpda orang dewasa sendiri..
Sibuk memikirkan kerja ini, gaji segitu, hidup mesti punya itu, tp melupakan hakikat hidup untuk bahagia sambil menikmatinya. Tersenyum saat ada masalah, dan bersyukur saat ada hadiah..

~ Nia banyak sekali menemukan PNS sejatinya gajinya cukup, tapi masih sering mengeluh. “PNS ini, apalah, tanggungjawab besar, tp gaji cuma segini.” Pun begitu juga, Nia ada lihat PNS yg terlihat bersahaja menaiki sepeda motor butut plat merah jatah dr kantor. Masih bersyukur tidak perlu membeli motor, masih menyisakan sebagian gaji untuk keluarga besar, meski istri tak kerja dan anak masih kecil, masih mampu untuk bekerja dengan senyuman meski sebenarnya situasi kantor pun bnyak tekanan..

~ Begitu juga, Nia lihat teman berwirausaha, sering mengeluh krna situasi perekonomian yang tak baik. Ancaman memPHK karyawan atau memotong gaji karyawan. Tapiii, Nia lihat juga, ada sahabat yg begitu menikmati berdagang. Meski laba tak selalu banyak, tp senantiasa syukur dalam setiap langkah. Berani menutup Toko setiap waktu shalat masuk meski banyak yg bilang akan kehilangan pelanggan. Alhamdulillah, hingga saat ini usaha beliau tetap stabil..

~ Lalu, bagaimana dengan para dokter?? Beberapa sahabat sudah banyak yg menyarankan saudaranya untuk tak masuk kedokteran seprti dirinya. Paham lah mksd Nia apa. Dokter itu bagi mereka trnyata tak seindah seprti impian masa kecil dlu. Bahagianya, Nia masih menemukan dokter yg ikhlas berbagi ilmu dgn gratis tnpa mengeluh meski anak di rmah terpaksa hrus “ditinggalkan” demi perjuangan mengabdi untuk dunia dan akhirat..

~ Pun begitu juga dengan guru, akreditasi yg menggetayangi, atau pekerjaan2 lain yg sebenarnya intinya sama..
Dan Nia tak kuasa untuk tak menyelipkan ini, PUPNS?? 😁😁😁.
Semua bergntung dari sudut pandang kita, apakah kita bisa bersyukur atas hidup kita atau tidak. Kita mampu menghargai pekerjaan kita meski bagi orang lain nilai tak ada harganya. Bukankah yg penting pekerjaan itu halal dan hasilnya berkah??
Lihat lah para tukang parkir. Ada tukang parkir yg bener2 bekerja baik di Pasar dekat sini. Saya yakin penghasilannya lebih besar drpda Anda yg berseragam..
Jadiiii, jgn rendah kan mereka yg bekerja yg menurut kita pekerjaan nya lebih “rendah” dr kita. Atau pekerjaan yg tingkat pendidikannya lebih rendah dari kita. Krna kita tak pernah tau alasan apa yg membuat mereka memilih pekerjaan itu. Kita tak pernah tau rizki siapa yg lebih berkah dan do’a siapa yg lebih diijabah..

Finally, saya senang sekali dgn perkembangan go-jek, grab fast, atau grab2 atau go2 yg lain. Kreatif dan inovatif. Sya rasa itu ide cemerlang untuk tingkat mobilitas modern yg makin populer dgn biaya hemat. Tapiii, akan lebih keren jika mereka juga menyisakan peluang untuk para tukang ojek konvensional yg lain. Bisa jd mereka tak punya kesempatan dahulu waktu muda hingga kini untuk kenal dgn yg namanya smartphone..
Saya terheran2 dgn sebuah super market di SeouL yg gedenya seperti Carrefour, mereka menutup Toko setiap hri Senin, setiap minggu. Tau alasannya kenapa??
Agar Pasar tradisional tetap hidup, dan mereka memanfaatkannya untuk meliburkan karyawan serta menata ulang stock..
Toh, rezeki gak kan kemana kan ya???

“Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzaabi lasyadid”
(“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7))

Lakukan semua hal terbaik yang bisa kita lakukan di posisi saat ini. Aa Gym bilang, bila menjadi seorang penyapu jalanan sekalipun, maka
“Jadilah penyapu yang baik hingga malaikat di langit, bumi, dan yang berada diantaranya ikut memuji kesungguhan sang penyapu karena keikhlasan dengan pekerjaannya.” – with Poni, Ratih, Ega, Yessi Yunelia, jannatul, and Indah

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KISAH SECANGKIR KOPI 

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Mereka semua sedang berusaha menggapai kesuksesan, kedudukan yg tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.

Mereka berbincang, masing-masing mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress. Sejenak sang dosen masuk ke dalam.

Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh, namun ada juga cangkir plastik murahan.

Sang dosen berkata, “Silakan kalian tuang kopinya sendiri-sendiri”

Setelah setiap mahasiswa menuang dan memegang cangkirnya masing-masing, namun tidak ada satupun yang memegang cangkir plastik murahan. Sang dosen berkata, “Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkirmewah saja yang kalian pilih??… Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa…. Sejatinya yang kalian butuhkan hanyalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!

“Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah. Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi. Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…” ujar si dosen.

Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia: Tidak pernah puas.

Perhatikanlah pesan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat” (HR. Bukhari)

Silahkan di share, Semoga bermanfaat.. 

‪#‎Berdakwah‬ ‪#‎sahabatmuslimah‬

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.