*Ini hanya bisnis, jangan sakit hati….

Perayaan tahun baru Masehi tidak ada dalam agama manapun. Silahkan cek kitab suci agama kalian–jika tidak percaya, cek sendiri, apakah ada? Tidak ada. Perayaan tahun baru Masehi simpel kreasi manusia, dengan alasan tertentu.

Lantas kenapa orang2 jadi sibuk sekali merayakannya?

Jawabannya sederhana: bisnis.

Jika 365 hari dipetakan dengan baik, maka tanggal-tanggal menuju tahun baru, adalah momentum bisnis paling menarik. Hotel misalnya, jaringan hotel dunia menawarkan acara perayaan dengan penyanyi2 top. Satu kursi untuk dinner bisa dijual jutaan rupiah, sambil dihibur penyanyi terkenal. Hotel juga menawarkan kesempatan menginap dua malam, yang juga tarifnya gila-gilaan. Tetap penuh okupansi hotel2, orang2 tidak peduli, mereka tetap mau membayarnya. Bagi hotel, apakah mereka sungguh merayakan tahun baru karena alasan hebat, tulus, momen kontemplasi utk introspeksi tahun depan, berlinang air mata kita mendengar penjelasannya? Tidak. Bagi mereka, tahun baru adalah “pesta pora”, revenue hotel meroket setiap tahun baru.

Belanja, contoh lainnya. Jaringan mall, supermarket, toko2 memberikan program besar-besaran menyambut tahun baru. Butik2, kedai2, fashion center, dsbgnya, dsbgnya, mereka menggunakan strategi berbeda dengan hotel, bukan memahalkan harga, senjata mereka terbalik: diskon. Menjelang tutup tahun adalah waktu paling pas mencuci gudang. Buat apa menyimpan gaun model lama? Buat apa memajang produk2 lama? Toh, tahun depan, selera orang2 sudah berbeda, maka marilah dicuci saja gudangnya. Mereka memasang target penjualan tinggi. Termasuk showroom, dealer mobil, waktu terbaik membeli mobil adalah akhir tahun, dek, kalian bisa dapat cash back gila2an saat akhir tahun. Produk makanan, produk konsumsi, sandang, gagdet, elektronika, semua memanfaatkan momentum akhir tahun untuk mencapai target penjualan.

Apalagi jika bicara televisi, bioskop, dan semua industri hiburan lainnya. Waktu merilis film terbaik selain summer (liburan panjang anak sekolah), adalah: akhir tahun. Hampir film2 paling top sedunia dirilis akhir tahun. Avatar misalnya, pemegang rekor paling dahsyat dirilis Desember akhir, juga yang paling gress, Star Wars, dikeluarkan akhir tahun. Televisi tidak ketinggalan berlomba2 membuat acara tahun baru, mereka ikut merayakannya, ramai sekali mencekoki penontonnya tentang betapa spesialnya tahun baru. Lagi2, apakah alasannya karena sungguh tahun baru adalah momen terbaik mengenang banyak hal? Evaluasi? Merenung? Waktu terbaik untuk memasang target2 tahun depan? No way! Televisi simpel melakukannya demi alasan rating dan pemasang iklan. Mereka tidak pernah peduli apakah acara tersebut memang sesuai dengan konsepsi perayaan tahun baru yang sakral, atau bahkan sama sekali bertolak belakang. Euuh, bagi mereka ini hanya bisnis saja, jangan sakit hati.

Saksikanlah, tangan2 bisnis, kapitalisme telah menjadikan perayaan tahun baru sebagai momen jualan terbaik mereka. Itulah kenapa mereka membombardir seluruh dunia, mengirimkan pesan seolah tahun baru adalah momen yang sangat penting. Dan penduduk bumi, berlomba2 mengaminkannya, kemudian ramai merayakannya. Penduduk bumi yang terbiasa disetir, tidak banyak bertanya, ikut2an larut dalam bisnis besar tersebut. Lantas apakah tahun baru itu spesial? Apakah tanggal 1 Januari itu memang berbeda sekali? Kalian tahu sendiri jawabannya. Ayolah, naif dek jika ada yang keukeuh ingin bilang tanggal 1 Januari lebih baik dibanding 364 hari lainnya. Dan ironisnya, kita bahkan belum bicara tentang ekses negatif perayaan tahun baru secara massif di seluruh dunia. Kita belum bicara tentang mubazir, kesia-siaan trilyunan uang seluruh dunia untuk perayaan ini. Kita belum bicara tentang dampak sosial, mercon berdentum-dentum mengganggu. Dan jangan lupa, betapa banyak anak muda yang justeru mengisi malam tahun baru dengan hal-hal merusak dirinya sendiri. Mulai dari mabuk2an, seks bebas, dan hal lain yang tidak perlu saya sebutkan.

Saya tidak sedang bicara moralitas, apalagi sok suci. Buat apa? Kalian semua sudah dewasa dan besar2 toh. Tulisan ini dibuat simply hanya sebagai penyeimbang. Syukur2 ada yang mau memikirkannya. Ketahuilah, sehebat apapun kita merayakan tahun baru, sehebat apapun kita mengisi malam tahun baru, sejatinya, dia tetap adalah tanggal, hari, sama seperti tanggal dan hari2 yang lain. Kitalah yang membuat sesuatu itu menjadi spesial, menjadi istimewa, bukan tanggalnya. Maka, sunggung malang, kaum yang asyik menspesialkan sebuah hari, hingga lupa, kita selalu bisa “bertahun baru” setiap hari secara hakikat dan substansi.

Saya tidak akan membuang energi sedikit pun merayakan tahun baru. Saya akan tidur–berusaha tidur tepatnya, di tengah dentum berisik. Saya tidak bersedia dijadikan “konsumen” tahun baru dalam sebuah jaringan bisnis raksasa–yang pemiliknya, justeru asyik tersenyum lebar melihat betapa suksesnya penjualan mereka di tahun baru kali ini. Bagi mereka, ini hanya bisnis, jangan terlalu dimasukkan dalam hati.

*Tere Liye – with Ega and truel

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: