Resonansi…
REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Asma Nadia

Sudah dua bulan lebih ladang milik Bapak terbakar. Bisa dibilang, memang  setiap kemarau datang,  ladang Bapak selalu mengalami kebakaran. Asap tebal menghitam menyebar ke mana-mana, hingga ke kampung sebelah dan mengganggu kesehatan dan aktivitas warganya.

Sekalipun ladang yang terbakar sebagian besar dalam status sedang disewa para kolega, kenyataannya, anak buah Bapaklah yang sibuk memadamkan api. Sedang  koleganya yang  rutin  menguras keuntungan dari ladang tersebut, mendadak menghilang entah  di mana setiap terjadi kebakaran

Padahal biaya sewanya murah. Sementara laba yang mereka dapatkan besar sekali. Tetap saja para penyewa hanya mengambil cara mudah  membuka lahan, tanpa memperhatikan aspek lingkungan. Salah satu akibatnya, api berkobar melantakkan hutan. Tapi seperti sebelumnya, pihak  terkait berlepas tangan. Ujung-ujungnya Bapak juga yang mengatasi. Sedangkan para kolega yang bertanggung jawab atas insiden itu, konon orang-orang sukses sekaligus punya nama besar.

Untunglah asap tidak pernah sampai menyentuh rumah. Jadi, sekalipun sedikit tertekan, Bapak bisa tidur pulas dan beraktivitas seperti biasa.
“Ladang  sudah  dua bulan kebakaran, kok, nggak beres-beres?” protes Ibu suatu hari.
“Sejak hari pertama anak buah dari kota sudah dikerahkan untuk memadamkan. Jangan anggap Bapak nggak kerja!”

“Iya, Ibu tahu, tapi orang kan menunggu hasilnya!”
“Lah, yang penting itu kerjanya, Bapak sudah maksimal, kok. Tuhan melihat apa yang kita kerjakan. Soal hasil, kan Dia yang menentukan.”
Kilah Bapak tanpa rasa bersalah.

Di sela-sela pembicaraan, si bungsu yang masih duduk di Sekolah Menengah muncul.
“Pak, teman-temanku dari kampung sebelah  kirim salam. Kata mereka terima kasih, karena jasa asap Bapak, mereka diliburkan tanpa batas waktu.”
Bapak melongo, bingung harus bangga atau malu.

Sementara anak keduanya yang masih kuliah, begitu muncul langsung berbicara panjang lebar.
“Kenapa, sih, Pak kita nggak dari kemarin-kemarin minta bantuan sama kampung sebelah. Mereka punya tangki air yang jauh lebih besar dan alat semprot yang lebih canggih. Jadi, masalah asap bisa segera selesai. Apalagi mereka bilang siap membantu!”
Mendengar usulan tersebut Bapak mendelik.

“Kamu mau mempermalukan Bapak?  Itu sama saja bilang Bapak tidak sanggup mengatasi hal sepele kayak gitu. Mau kamu keluarga kita dianggap lembek? Bapak masih bisa, kok, mengatasi, tidak usah minta bantuan. Sekalipun kampung tetangga  punya alat yang lebih hebat.”

“Tapi ini sudah dua bulan lebih. Kita sudah terbukti tidak mampu. Korban sudah berjatuhan. Atau Bapak sewa saja, kalau malu minta bantuan. Bilang kita sewa, nanti dibayar. Yang penting api padam, asap hilang dulu!”

Bapak tampak manggut-manggut. Kalaupun sewa, uang sebenarnya ada, bahkan bisa gratis karena kampung sebelah memang berkali-kali menawarkan bantuan.
Di sisinya, sang anak terus menguraikan ide.

“Nanti semua biaya ditagih ke para penyewa atau kolega Bapak yang seharusnya bertanggung jawab!”

Bapak baru akan membuka mulut ketika telepon tiba-tiba berdering.
Dari ujung telepon terdengar suara tangis–membawa berita duka. Wajah Bapak spontan berubah pias. Cucu semata wayangnya, anak dari putra sulung yang tinggal di kampung sebelah, terkena infeksi saluran pernapasan akut, dan kini dirawat di rumah sakit. Bocah berusia lima tahun itu sedang berjuang antara hidup dan mati, semua gara-gara asap.

Meski dilanda kesedihan  Bapak masih tampak ragu. Hingga si bungsu memecah keheningan.
 “Apalagi yang ditunggu, Pak?” ujarnya sambil menyerahkan telepon. “Hubungi kepala desa sebelah. Tidak ada harga diri yang pantas dibayar dengan nyawa cucu bapak, atau siapapun.”

Tapi Bapak belum beranjak dari kediaman. Ibu yang mulai terisak mendekat dan pelan-pelan bicara.
“Bukannya Ibu mau menggurui, tapi coba baca dua ayat ini, Pak.”
Telunjuk ibu mengarah pada sebuah ayat dalam Al-Qur’an.
 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian, adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy-Syuro: 30)

Mungkin memang Bapak belum maksimal, pikirnya. Mungkin sesuatu yang cukup baik tetap harus ditingkatkan menjadi lebih baik, apalagi dalam situasi darurat. Kabut masih menyelimuti pikiran Bapak ketika sekonyong-konyong angin berubah arah.
Asap dari kampung sebelah berbondong-bondong menuju rumah Bapak. Laki-laki itu merasa matanya mendadak perih, sementara kerongkongan gatal hingga dia terbatuk-batuk parah. Asap terus bergerak, menebal, mengunci pandangan Bapak juga Ibu.

Tangan laki-laki setengah baya itu meraba-raba mencari telepon yang belum lama diletakkan di meja.Kali ini tak ada keraguan, tanpa menunda apa pun,  ia  menelepon semua orang.
“Halo, apakah bisa kampung Saudara membantu saya….”
“Halo, bisa disediakan oksigen dan masker….”
“Halo, tolong segera dicairkan dana untuk atasi asap….”
“Halo, ya, semua penyewa tidak tanggung jawab akan saya tuntut….”
“Halo….?”

Di sela kepanikan Bapak dan asap yang memenuhi rumah, Ibu dan anak-anak saling pandang.
Bapak… Bapak….. Giliran diri yang terkena asap, baru berpikir mengatasi secepat mungkin dengan segala sumber daya yang ada. Padahal seharusnya seseorang tidak harus menjadi korban dulu untuk sungguh-sungguh peduli pada penderitaan sesama.

View on Path

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar


Pagi ini pikiran Nia menerawang jauh ke belakang, entah usia berapa kala itu, mungkin sktar 8 thn..
Kalau orang menanyakan cita2 Nia apa, maka dengan cepat Nia akan jawab ingin jadi dokter. Tapi, sejujurnya, saat itu Nia ingin sekali menjadi kernet angkot atau jd kasir supermarket. Alasannya sederhana, krna saat itu Nia gak menemukan kernet angkot yg baik, ramah, mudah senyum, memberikan kembalian dgn sesuai tarif, lalu yg paling penting informatif. Sederhananya pemikiran saat itu, rasanya sangat senang sekali bisa membantu banyak orang yg tersasar dgn bisa memberikan petunjuk yg benar meski imbalan materi jd kernet angkot mngkn tak sbrpa..

*Dokter juga baik, tp sudah bnyak yg bercita2 jd dokter, kebayang gak kalo semua anak Indo yg ramah jd dokter. Nanti yg jd kernet yg ramah siapa?? Hahahaha… Tapiiiiiii, biar orang gak bnyak nanya lg soal cita2, Nia memang lebih sring mnjwab pengen jd dokter, dan tentu nya biar orang tua seneng juga… 😊😊😊

Usia 12 tahun saat Nia sudah bnyak berinteraksi sma buku, cita2 juga mulai berkembang, pengen jadi guru dan juga PenuLis.. Rasa2nya cita2 itu keren sekali saat itu bagi Nia. Tapiii, lagi2 Nia gak brani ungkapkan, krna rata2 guru2 di sekolah menganggap pekerjaan keren itu kalau kerja jadi dokter, insinyur, kerja di pertambangan, atau penerbangan, atau yg rata2 orng anggap keren lah. Lalu, Nia cuma simpan cita2 itu dalam diam, kunci rapat2 lalu berserah pada-Nya..

Kelas 1 SMA, ingin masuk jurusan IPS, tak diizinkan oleh wali kelas. “Nia, kamu itu mampu untuk masuk jurusan IPA, bahkan dlu kamu pernah ikut olimpiade Matematika kan??”. Oke, dihapuslah jurusan IPS yg awalnya sudah nangkring dirapor kala itu. Saya tak kuasa untuk menolak keinginan beliau..

Tapii, alhamdulillah memilih jurusan kuliah, benar2 Nia dibebaskan. Meskipun Nia tau Mama sangat brharap Nia memilih kedokteran gara2 Mama memang basicnya dr medis. Alhamdulillah karna kakak sudah ada yg meneruskan Mama, jd Nia jg gak terlalu berat buat tak mengikuti keinginan Mama.. Pun saat Nia mendaftarkan diri jurusan psikolog dan guru bahasa, Mama masih sempat menyarankan untuk ambil guru sains. “Nia kan mampu, kenapa ndak ambil saja jurusan Matematika atau IPA, atau Nia suka ekonomi juga kan?? Kenapa ambilnya bahasa?? Atau kalau bahasa, kenapa bahasa Indonesia? Kenapa gak bahasa Inggris??”..
Nia cma memandang Papa lalu bertanya,
“Papa gak pa pa kan kalau Nia jadi guru bahasa?”
Papa kemudian tersenyum dan mengangguk takzim.. Papa, I luv u, dad.. 😘😘😘
Bahkan kemudian Nia nelp Risa buat nyari dukungan. Kalau misalkan nanti Nia gagal dgn pilihan Nia, masih ada sahabat yg mensupport Nia.. Makasih ya Sa… 😁😁😁
Itulah yg kemudian meringankan langkah Nia, meski Mama awalnya masih bingung, alasan Nia ambil jurusan yg gak lazim atau gak keren atau gak punya masa depan dgn gaji yg menjanjikan mksdnya…
Hahahahahahaha…

Tapiiiiiii, begitulah Mama. Saat pengumuman SPMB keluar dan Nia diterima di Pendidikan Bahasa & Sastra Indonesia, Mama mungkin yg paling bahagia. Bahkan lebih ekspresif ketimbang Papa dan Nia sendiri. Beliau yg dgn Semangat menyiapkan slruh perlengkapan Nia untuk merantau ke pulau seberang. Masih ingat kalau selimut tebal pun beliau masukkan ke dalam koper! Tak ada lagi pembahasan, kenapa harus guru bahasa?? Mama, I luv u Mom.. 😭😭😭

Delapan tahun merantau, Nia menyadari begitu banyak sebenarnya cita2 seorang TsamaratuL Janniah. Nia tertarik pda banyak hal, tapi lebih banyak pda hal2 sosial. Nia suka hal yang berkaitan sejarah, sosiologi, al-qur’an, Hadits, psikologi, ekonomi, traveling dan bahasa tentunya (politik sejujurnya suka, tp skrng lebih dihindari, hahaha), serta Nia suka sekali belajar dan mengamati, meski msih bnyak juga malesnya… .😊😊😊

Jujur, Nia punya banyak impian, tp terlepas dari semua cita2 itu, yg paling penting Nia bisa bermanfaat buat orang lain. Hidup kaya atau miskin itu hanyalah seprti roda yg dipergilirkan oleh ikhtiar, do’a, TawakaL dan takdir Allah SWT..

Beberapa bulan yang lalu, Nia sempat bertanya kepada Ponakan yg berusia 3,5 tahun.
Nia : “Aim cita2nya pengen jadi apa?”
Aim : “Mau jadi kyak Abi aja”.
Nia : ” Maksudnya? Aim mau jd pengusaha?”
Aim : “Bukan, mau jadi tukang cuci mobil aja, main sma air tiap hari”.. (Dan itu Aim ngomongnya serius loh, krna Aim emng hobi bgt sma air, ha-ha)..
*Aim sering lihat Abinya di tempat Car Wash lagi cuci mobil. Krna kadang pegawai Uda yg lain pda ada customer, jd Uda nyuci mobilnya sendiri..

Terlihat kan??
Kdang anak2 pemikirannya lebih sederhana drpda orang dewasa sendiri..
Sibuk memikirkan kerja ini, gaji segitu, hidup mesti punya itu, tp melupakan hakikat hidup untuk bahagia sambil menikmatinya. Tersenyum saat ada masalah, dan bersyukur saat ada hadiah..

~ Nia banyak sekali menemukan PNS sejatinya gajinya cukup, tapi masih sering mengeluh. “PNS ini, apalah, tanggungjawab besar, tp gaji cuma segini.” Pun begitu juga, Nia ada lihat PNS yg terlihat bersahaja menaiki sepeda motor butut plat merah jatah dr kantor. Masih bersyukur tidak perlu membeli motor, masih menyisakan sebagian gaji untuk keluarga besar, meski istri tak kerja dan anak masih kecil, masih mampu untuk bekerja dengan senyuman meski sebenarnya situasi kantor pun bnyak tekanan..

~ Begitu juga, Nia lihat teman berwirausaha, sering mengeluh krna situasi perekonomian yang tak baik. Ancaman memPHK karyawan atau memotong gaji karyawan. Tapiii, Nia lihat juga, ada sahabat yg begitu menikmati berdagang. Meski laba tak selalu banyak, tp senantiasa syukur dalam setiap langkah. Berani menutup Toko setiap waktu shalat masuk meski banyak yg bilang akan kehilangan pelanggan. Alhamdulillah, hingga saat ini usaha beliau tetap stabil..

~ Lalu, bagaimana dengan para dokter?? Beberapa sahabat sudah banyak yg menyarankan saudaranya untuk tak masuk kedokteran seprti dirinya. Paham lah mksd Nia apa. Dokter itu bagi mereka trnyata tak seindah seprti impian masa kecil dlu. Bahagianya, Nia masih menemukan dokter yg ikhlas berbagi ilmu dgn gratis tnpa mengeluh meski anak di rmah terpaksa hrus “ditinggalkan” demi perjuangan mengabdi untuk dunia dan akhirat..

~ Pun begitu juga dengan guru, akreditasi yg menggetayangi, atau pekerjaan2 lain yg sebenarnya intinya sama..
Dan Nia tak kuasa untuk tak menyelipkan ini, PUPNS?? 😁😁😁.
Semua bergntung dari sudut pandang kita, apakah kita bisa bersyukur atas hidup kita atau tidak. Kita mampu menghargai pekerjaan kita meski bagi orang lain nilai tak ada harganya. Bukankah yg penting pekerjaan itu halal dan hasilnya berkah??
Lihat lah para tukang parkir. Ada tukang parkir yg bener2 bekerja baik di Pasar dekat sini. Saya yakin penghasilannya lebih besar drpda Anda yg berseragam..
Jadiiii, jgn rendah kan mereka yg bekerja yg menurut kita pekerjaan nya lebih “rendah” dr kita. Atau pekerjaan yg tingkat pendidikannya lebih rendah dari kita. Krna kita tak pernah tau alasan apa yg membuat mereka memilih pekerjaan itu. Kita tak pernah tau rizki siapa yg lebih berkah dan do’a siapa yg lebih diijabah..

Finally, saya senang sekali dgn perkembangan go-jek, grab fast, atau grab2 atau go2 yg lain. Kreatif dan inovatif. Sya rasa itu ide cemerlang untuk tingkat mobilitas modern yg makin populer dgn biaya hemat. Tapiii, akan lebih keren jika mereka juga menyisakan peluang untuk para tukang ojek konvensional yg lain. Bisa jd mereka tak punya kesempatan dahulu waktu muda hingga kini untuk kenal dgn yg namanya smartphone..
Saya terheran2 dgn sebuah super market di SeouL yg gedenya seperti Carrefour, mereka menutup Toko setiap hri Senin, setiap minggu. Tau alasannya kenapa??
Agar Pasar tradisional tetap hidup, dan mereka memanfaatkannya untuk meliburkan karyawan serta menata ulang stock..
Toh, rezeki gak kan kemana kan ya???

“Lain syakartum laazidannakum walain kafartum inna adzaabi lasyadid”
(“Barangiapa mensyukuri nikmat-Ku, maka akan Ku tambahkan nikmat baginya. Dan barangsiapa kufur terhadap nikmatKu, sesungguhnya adzab-Ku amat pedih.” (Q.S. Ibrahim : 7))

Lakukan semua hal terbaik yang bisa kita lakukan di posisi saat ini. Aa Gym bilang, bila menjadi seorang penyapu jalanan sekalipun, maka
“Jadilah penyapu yang baik hingga malaikat di langit, bumi, dan yang berada diantaranya ikut memuji kesungguhan sang penyapu karena keikhlasan dengan pekerjaannya.” – with Poni, Ratih, Ega, Yessi Yunelia, jannatul, and Indah

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

KISAH SECANGKIR KOPI 

Suatu hari di sebuah universitas terkenal. Sekelompok alumnus bertamu di rumah dosen senior, setelah bertahun-tahun mereka lulus. Mereka semua sedang berusaha menggapai kesuksesan, kedudukan yg tinggi serta kemapanan ekonomi dan sosial.

Mereka berbincang, masing-masing mulai mengeluhkan pekerjaannya. Jadwal yang begitu padat, tugas yang menumpuk dan banyak beban lainnya yang seringkali membuat mereka stress. Sejenak sang dosen masuk ke dalam.

Beberapa saat kemudian, beliau keluar sambil membawa nampan di atasnya teko besar berisikan kopi dan berbagai jenis cangkir. Sebagian cangkir tersebut luar biasa indahnya. Ukirannya, warnanya dan harganya yang waahh, namun ada juga cangkir plastik murahan.

Sang dosen berkata, “Silakan kalian tuang kopinya sendiri-sendiri”

Setelah setiap mahasiswa menuang dan memegang cangkirnya masing-masing, namun tidak ada satupun yang memegang cangkir plastik murahan. Sang dosen berkata, “Tidakkah kalian perhatikan bahwa hanya cangkir-cangkirmewah saja yang kalian pilih??… Kalian enggan mengambil cangkir-cangkir yang biasa…. Sejatinya yang kalian butuhkan hanyalah kopi, bukan cangkirnya. Akan tetapi kalian tergiur dengan cangkir-cangkir yang mewah. Terus perhatikanlah, setelah masing-masing kalian memegang cangkir tersebut, kalian akan terus berusaha mencermati cangkir yang dipegang orang lain!

“Andaikan kehidupan adalah kopi, maka pekerjaan, harta dan kedudukan sosial adalah cangkir-cangkirnya. Jadi, hal-hal itu hanyalah perkakas yang membungkus kehidupan. Adapun kehidupan (kopi) itu sendiri, ya tetap itu-itu saja, tidak berubah. Saat konsentrasi kita tersedot kepada cangkir, maka saat itu pula kita akan kehilangan kesempatan untuk menikmati kopi. Karena itu kunasehatkan pada kalian, jangan terlalu memperhatikan cangkir, akan tetapi nikmatilah kopinya…” ujar si dosen.

Sejatinya, inilah penyakit yang diderita manusia: Tidak pernah puas.

Perhatikanlah pesan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat” (HR. Bukhari)

Silahkan di share, Semoga bermanfaat.. 

‪#‎Berdakwah‬ ‪#‎sahabatmuslimah‬

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Berusaha mengikhLaskan, gak usah diingat2, malah nemu ini….
#jleb bgt gak siiiih???
*colek diri sendiri…. 😭😭😭😭😭

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Kenapa pengen Kurban??

Engga punya uang, hutang belum lunas, tp tetap ngotot mimpi kurban..
Udah dibilang engga wajib apalagi belum punya penghasilan, tetap aja ingin kurban…
Belum bisa nabung, masih dikasih ortu, si kurban tetap menghantui…

Bukan karena memaksakan keinginan, tapi cobalah lihat lebih dalam…
Betapa indahnya pengorbanan yg dilakukan Nabi Ibrahim dan IsmaiL dalam menjalankan perintah Allah..
Betapa mulianya perintah ini..
Haji pun dilakukan, rukun Islam yg paling “tinggi” dilaksanakan hanya pada saat Hari Raya Kurban, tak bisa di hari lain…
Cobalah cri riwayat2, kisah2 lain yang menuliskan bagaimana istimewanya orang yg berkurban..
“Ingin kendaraan ke Syurga?? Hayooo kurban… ”

Ya Allaaaah…
Bantu hamba untuk mewujudkan mimpi ini meski keadaan bilang impossible..
Tak ada yg tak mungkin di sisi-Mu ya Allah…
Dan, mudahkanlah rizki semua saudara2 hamba yang mempunyai mimpi yg sama meski semua orang bilang tak wajib…
*muhasabah menuju 24 September
*selagi masih single belum punya banyak tanggungjawab
*mari berjuang…

Bismillahirrahmanirrahim… 🙌🙌🙌🙌

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mudah-mudahan seluruh umat Islam dapat berfikir positif menghadapi musibah jatuhnya crane di MasjidiL Haram. BiarLah umat lain sibuk dengan pikirannya sendiri, tapi tidak dengan kita. Mari do’akan seluruh saudara kita yang menjadi korban pada kejadian ini…

~”Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Imam Muslim).~

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ‘indaka ahtasibu musibati fa ajirni fiha wa abdilni minha khaira
(Sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya kami kembali.
Ya Allah aku pasrah padaMu atas musibah ini, maka berilah aku pahala dan gantilah dengan yang lebih baik.)

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

*Tak Ada Ruginya

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Jika kita bekerja kantoran, belasan tahun, bahkan puluhan tahun, untuk kemudian, cita-cita masa muda kembali datang menghampiri. Ingin terbang bebas, menggapai angkasa luas. Maka, tiada ruginya mengikuti kata hati. Berhenti dari pekerjaan tetap, mulai mengejar cita-cita lama. Beresiko memang, ragu-ragu tentu saja, cemas, karena kemapanan dan kenyamanan memang selalu membuat kita tidak mau berubah. Tapi tetapkan niat, ambil keputusan. Hidup ini pendek, saat kita sudah senja, kita akan berdiri, menoleh ke belakang, agar tiada sesal kelak.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Jika teman-teman kita ramai-ramai masuk sebuah jurusan atau fakultas tersohor, yang di sana konon katanya, pekerjaan dan masa depan lebih terjamin, sedangkan kita punya pilihan berbeda sendiri. Maka, tiada ruginya mengikuti kata hati. Genapkan keputusan memilih jurusan/fakultas kita. Tidak masalah tidak terlihat keren, canggih atau hebat. Pun tidak mengapa jika orang-orang berbisik, atau keberatan. Hidup ini pendek sekali, hanya sekejap mata, tiba-tiba kita sudah lulus kuliah. Sungguh beruntung orang-orang yang belajar dengan riang, karena pilihan sendiri, tahu persis hendak menjadi apa. Itu jauh lebih penting dibanding hal hebat menurut kaca mata dunia, apalagi dibanding komentar orang lain.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Hidup ini dipenuhi pilihan. Setiap pilihan selalu punya resiko. Ada seorang ibu yang hendak full mengurus anak-anak dan keluarga. Ada seorang anak muda hendak merantau jauh menimba ilmu. Ada seorang profesional harus memutuskan masa depannya. Bahkan remaja di sekitar kita, juga tidak bisa lepas dari pilihan-pilihan hidup. Maka, saat kita ada di persimpangan jalan, jangan kalut dan jangan bimbang, tersenyumlah, kawan, tiada rugi mendengarkan kata hati. Ambil keputusan.

Tak ada ruginya mendengarkan kata hati.

Karena hidup ini pendek sekali. Selalu hiasi dengan ahklak terbaik, selalu bermanfaat bagi banyak orang. Semoga kelak, kita berdiri di penghujung jalan, menoleh. Tersenyum lega. Kita pernah melakukannya. Soal berhasil atau tidak, itu rahasia Tuhan…

~ Tere Liye ~

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat seluruh penggemar Korea, jgn marah baca postingan ini…
Jadi awalnya kmrn waktu di Gyeongbokgung Palace, el dgn semangatnya nunjuk ke satu titik dan bilang, “itu Namsam Tower, bsk kita ke sana”, lalu dgn muka datar, aku jawab,
“Namsam Tower itu apa??”..
Sepertinya el lngsng kehabisan kata2, “ini anak beneran gak tau Korea sama sekali ya?? Gak pernah nonton drama Korea?? Namsam Tower gak tau?? O, my God!”
Untung Mba Ida lngsng memahami situasi dan bilang, “Itu landmark nya SeouL, banyak latar film drama Korea di sna”…
Hahahahahahaha…
Akhirnya liat juga ini N SeouL Tower, ternyata emang keren di sana, sambil nyantei sore menjelang malam melihat Kota SeouL, liat Sungai Han yg membelah Korea, dan ternyata di sini pohon gembok cinta Teh…
Malemnya el bilang, ” Ibu’ tu shrusnya bersyukur bisa ke sini, banyak yg bermimpi pengen ke Korea, tp blum bisa ke sini, naaah, Nia, tau soal Korea juga engga, suka drama Korea jg engga, makanan Korea apalagi, K-Pop dikira semacam Paddle Pop, lalu diberikan nikmat kesempatan bisa menginjakkan kaki dan ngeliat hal2 yg buat sebagian orang lain cuma sebagai mimpi”…
Okei Isem, Terima kasih sdah mau menjadi guide kami, menampung kami, dan sabar menghadapi kami…
Gamsa-hamnida Elvira Wardah….

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Dari dulu pengen cobain es krim Turkey ini yg dijual langsung sma Mamang2nya..
Dikira bakal pertama kali cobain di Turkeynya lngsng, tau2nya kmrn di Insa-Dong bnyak yg jualan es krim ini. Colak-colek el buat beliin es krim ini, tp el nya ternyata udah kapok dikerjain sma yg jualnya…
Udah pasrah gak bakalan jd beli ini es krim, Mba Ida tiba2 bilang, “aku mau es krim itu”. Ya sudah dgn Semangat menemani Mba Ida mendekati si Mamang…
Daaaan, finally, Mba Ida yg gak tau history ini es krim, pas dikerjain si Mamang, kesel, malah lngsng bilang ” Okey, Bye!”, sambil muter badan mau pergi. Si Mamang gak siap dgn respon Mba Ida akhirnya menyerah dan menyerahkan itu es krim…
Alhamdulillah yaaa…
–> sayangnya gak divideon itu moment.. 😙😙😙

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

It’s so hard, but life is choice..
Terimakasih semua..
IkhLaskan keputusan ini ya..
Benar2 terharu punya teman2 seperti kalian..
Mudah2an perpisahan ini bisa makin mendekatkan kita pada Jannah-Nya..
God bye Bandung…
I wiLL miss you…

*berharap nanti saat jiwa ini terpisah dr raga lebih bnyak yg meneteskan air mata drpda perpisahan sementara ini…
Luv u aLL…

View on Path

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.